Mandiri dan Berkat Tuhan
Pagi itu aku bangun seperti biasa jam 8, mandi dan sarapan seperti biasanya dirumah, jam 9 ku buka toko Ayah, toko dimana saat ini kami andalkan sebagai penghasilan utama keluarga, meski tidak terlalu besar. Masih teringat dikepala Ayah memutuskan untuk berwiraswasta mandiri dengan membuka toko spare part dan variasi motor setelah kalah dalam pemilu 4 tahun yang lalu. Meski kalah dengan duit yang tidak sedikit, perjuangan yang sangat melelahkan, aku juga sempat diajak Ayah ikut beliau berkampanye kesebuah desa yang jauh terpencil, pagi berangkat dan pulang tengah malam, kadang tidak pulang. Dengan perjuangan yang sedemikian rupa dan hasil dengan kekalahan. Aku tahu bagaimana perasaan kecewa dan terpukulnya Ayah dengan gaya “pemilu” yang sekarang ini, satu kalimat yang sangat kuingat dikepala adalah saat dengan kecewa dan emosi yang teredam Ayah berbicara “Masyarakat sering mengeluh, kecewa, komplain dan orasi segala macam menggunjing miring Pemerintah, tapi mereka sendiri pula yang membuatnya(Pemerintah) tanpa berpikir terlebih dahulu”,,, sudah bukan rahasia lagi bahwa pemilu sekarang tidak cukup hanya dengan niat tulus, tapi DUIT yang lebih dari CUKUP maka dialah yang akan merebut hati masyarakat, aku lihat itu juga saat pemilu Bupati kota ku, beberapa kubu kuat saling beradu gocek dompet hanya untuk harapan sebuah contrengan pemilu.
Kupikir jika Aku menjadi Ayah mungkin aku sudah gila, duit keluar banyak, capek yang tidak terkira dengan sebulan perjuangan belum lagi gunjingan orang-orang tetangga. Aku hanya bisa mendo’akan Ayah dalam hati, padahal saat itu ada konflik antara aku dengan Ayah dan Mamah. Tapi Ayah bangkit, beliau membuktikan walau dengan keadaan hati yang sedemikian rupa, kami makan sederhana tiap malam karna kalah, Ayah memberi modal sedikit sama Mamah karna Mamah berinisiatif untuk membuka butik. Jadilah Mamah membuka usaha yang pertama, dengan pengalaman Mamah bagaimana berbisnis butik. Dengan gigih mereka berdua pulang pergi banjar, dan Jakarta untuk membeli barang-barang di grosir maupun eceran. Aku juga rasakan bagaimana letih mereka berdua menghidupi kembali isi rumah, dapur terutama, bahkan aku masih ingat Mamah dan Ayah pulang dari Jakarta langsung membuka toko. Padahal kalau kupikir perjalanan ke Batulicin-Banjar-Jakarta itu kurang lebih makan waktu 7 jam, sehari di Jakarta mereka pulang. Sosok mereka berdua lah yang kini baru benar-benar aku lihat, inilah orang tua ku yang paling kuat, dan pantas kubanggakan. Setelah kurang lebih setahun usaha Mamah Alhamdulillah lumayan berhasil. Dan Ayah mendapatkan sedikit modal kembali dari usaha-usaha kecil beliau. Dengan matang, mengubur kolam ikan depan rumah yang besar. Ayah membuka toko yang sekarang.
Dan kini dengan aku sendiri, yang dihadapkan dengan pilihan kuliah setelah masih terbayang betapa hendak mati aku ketika dihadapkan ujian nasional tahun lalu. Dengan perjuangan yang tidak kalah capeknya juga, belajar siang malam, baik itu kelompok secara bergiliran dan yang paling sering dirumahku J. Dan kini aku lulus dengan nilai UAN yang cukup memuaskan untuk ku pribadi. Paling tidak ada nilai 9 diantara 6 mata pelajaran jurusan IPA yang di ujikan. Dan itu adalah Bahasa Inggris. Pelajaran yang paling kusukai setelah Biologi. Dua mata pelajaran itu adalah yang paling ku kuasai daripada mata kuliah yang lain. Sekarang SNMPTN semakin dekat didepan mata, setelah ujian nasional adalah dikepalaku setiap kali aku bangun adalah, “Kuliah masuk Biologi atau Bahasa Inggris” begitu seterusnya. Hingga akhirnya aku putuskan aku ingin masuk Bahasa Inggris dengan segala keputusan matang dan segudang impian dan harapan untuk keputusan yang kuambil sekarang. Aku bilang pada Ayah dan Mamah bahwa aku ingin kuliah masuk Fakultas Bahasa Inggris, dan belakangan di Unlam tidak ada jurusan Sastra Bahasa Inggris, hanya ada FKIP. Padahal harapan terbesarku disana, dan kalau tidak ada di sini, ditanah kelahiran ku Kalimantan Selatan. Aku ingin berkuliah di Jawa, itu keinginan setelah Ayah dan Mamah tidak menyetujui dan tidak mengijinkan dengan berbagai keputusan pula. Ayah bilang kamu belum bisa mandiri, pikiran kamu masih anak kecil 16 tahun, kamu belum tahu bagaimana kalau nantinya kamu disana kenapa-kenapa dan sederet aritmatika omelan tak hingga Ayah dan Mamah. Jadilah aku dihadapkan kembali oleh kuliah dan permintaan Ayah untuk menemaninya bekerja saja di toko. Tapi kata hati terus mengatakan bagaimanapun caranya aku harus bisa kuliah justru karna aku masih muda, InsyaAllah mampu, Ayah dan Mamahku memberi lampu hijau padaku bahwa ada kesempatan untuk tetap kuliah meski hanya di tanah kelahiran sendiri, dikepalaku pun hanya ada 2 Universitas yang aku rasa familiar yaitu UNLAM sendiri sebagai Universitas Negeri satu-satunya, dan UNISKA Universitas Swasta yang paling terkenal di Kalimantan Selatan meskipun belakangan aku tahu ada pula STKIP, IAIN Antasari, STIKES Muhammadiyah, STIKES Sari Mulya dll, dan di Kabupaten ku sendiri STIKES Darul Azhar yang didirikan oleh mantan Bupati Kabupaten 4 tahun yang lalu Zairullah. Alasan sederhana kenapa aku memilih dua Universitas tesebut karena Unlam adalah Universitas negeri, Uniska adalah Universitas dimana guruku sekarang kuliah di Texas.
Jadilah aku berangkat SNMPTN dengan teman-teman yang masih kuingat saat itu, aku Hadi dan Aulia bertiga kami berangkat meski peserta awal 5 orang. Tapi ternyata mereka berangkat lebih awal. Kami berangkat selisih 2 hari sebelum UAN dimulai jadi ketika kami sampai Banjarmasin kami terpisah dan aku sendiri dijemput oleh kakak sepupuku yang kuliah di Unlam dan tinggal di Asrama Demang Lehman Unlam. Persiapan untuk siap tes adalah hanya satu hari, jadilah aku pulang istirahat dan bangun langsung belajar sambil sedikit bertanya-tanya dengan anak-anak asrama Unlam tentang Unlam. Sebenarnya persiapan SNMPTN Unlam tidak pas hari itu saja, setelah UAN berakhir kami masih punya waktu belajar, bahkan kami belajar kelompok sekitar 2 minggu menjelang SNMPTN. Hari yang ditunggu pun datang esok harinya, dengan pakaian sederhana celana jeans, dan baju sasirangan aku tes SNMPTN jalur IPC (jalur yang bisa dikatakan serakah, hehehe, artinya bisa mengambil jurusan IPA dan IPS) meski dengan uang yang tidak sedikit pula, seingatku 63 rb kalau tidak salah, sedang 2 jalur yang lain itu setengah harga. Sebelumnya diadakan pendaftaran via online terlebih dahulu. Kalau tidak salah diantara teman-teman ku hanya aku yang mengambil jurusan IPC (jurusan yang non-konsisten menurut beberapa orang) sedangkan kebanyakan dari mereka mengambil jurusan IPA. Alasan dibalik aku mengambil IPC adalah pilihan atau opsi yang ingin kuambil, pilihan pertama adalah Bahasa Inggris dan pilihan kedua sebagai antisipasi Bilogi semua dalam jurusan FKIP, dan ternyata untuk IPC ada 3 opsi, jadilah kunamakan pilihan terakhir ini “keberuntungan” aku ambil jurusan HI di Unversitas Brawijaya dengan standar yang tidak kecil. Dengan porsi belajar yang menguras tenaga dan mental, karna harus belajar dua mata jurusan sekaligus IPA dan IPS maka hari itu hanya do’a yang selalu yang bisa aku panjatkan selama tes, jadi ketika aku membaca soal aku awal dengan bismillah begitu pula ketika menjawab, karna aku tahu keberhasilan dari usaha dan do’a saja tidak cukup faktor “lucky” lah yang menentukan diterimanya seseorang di Universitas yang mereka inginkan. Ketika orang-orang pulang lebih cepat karna hanya 1 jurusan yang mereka ambil, seingat ku mereka(jurusan IPA saja atau IPS saja) pulang jam 10 sedangkan kami jam 2 baru bisa menyelesaikan tes, benar-benar capek memang, dan bukan hanya sekedar capek yang didapatkan stress dengan soal-soal pun tidak terkira, tapi kepuasan orang selalu berbeda-beda. Mereka yang di jurusan IPA tidak merasakan kepuasan tes yang dirasakan oleh jurusan IPS sebaliknya dan berbanding dengan IPC.
Setelah selesai tes aku tidak langsung pulang, urusan tidak selesai karena harus mencari info-info penerimaan mahasiswa baru di berbagai Universitas yang ada di Banjarmasin termasuk Uniska didalamnya. Ternyata Uniska hanya selisih 3 hari menerima mahasiswa baru setelah pengumuman SNPMTN, sedangkan Unlam hanya seminggu setelah SNMPTN mereka melanjutkan jalur SMUT. Singkat cerita aku tidak masuk dan tercatat di Koran B-Post sebagai salah satu Mahasiswa yang diterima di Unlam. Soal perasaan tidak usah lagi dibahas. Mungkin belum rejeki,,,
Selama itu Ayah mencoba membujukku untuk masuk jalur SMUT di jurusan Keperawatan atau Kesehatan Masyarakat. Ayah menginginkan aku masuk fakultas kedokteran. Sampai ketika Ayah memanggilku, “Ayah ditelpon temen Ayah ni, kalo kamu masuk jurusan Keperawatan atau Kesehatan Masyarakat, kamu tinggal ikut tes aja, nanti kamu tetep masuk, biar Ayah aja yang urus semua”. Walaupun sebenarnya ini terdengar sangat mudah sekali, tapi hatiku tetap tidak bisa dan sudah bulat kalau jurusan yang sebenarnya kupilih adalah Bahasa Inggris. Aku tahu ketika aku mengatakan hal itu wajah Ayah langsung kecewa dan hampir emosi, tapi Ayah tahan. “Ya sudah terserah kamu saja, tapi kalo kamu tidak lulus Ayah gak akan kuliahkan kamu tahun depan, sudah enak ada makanan didepan mata, kamu masih nyari makanan yang gak pasti dapat kamu makan” kurang lebihnya Ayah bilang seperti itu. Aku Cuma bisa diam. Akhirnya tes untuk Uniska jalur pertama pun tiba, aku berangkat sendiri ke Banjarmasin dengan taxi sehari sebelum tes, kembali 5 jam perjalanan harus ditempuh dengan taxi colt untuk menghemat waktu. Esoknya pagi jam stengah 8 sudah mesti stay on campus, buat registrasi segala macam sebelum tes dimulai. Makan waktu sehari penuh baru selesai, di Universitas swasta ini tetap pilihanku adalah Pendidikan Bahasa Inggris, dan opsi kedua Biologi, sama seperti SNMPTN. Untuk tes ini Alhamdulillah cukup mudah, tetapi melelahkan karna serentetan tes yang lain wajib diikuti. Kalau SNPMTN aku butuh 4 hari, dari berangkat, tes, sampai pulang ke Batulicin. Tes Uniska kuselesaikan sehari semalam saja, pagi berangkat, siang sampai dan langsung kuurus registrasi SMUT, dan ternyata SMUT bukan SNMPTN, artinya kalau di SMA jurusan IPA maka jurusan prodi yang kamu ambil harus IPA begitu juga dengan IPS, jadilah hari itu aku sampai menjual kuitansi registrasi daripada rugi 100 ribu rupiah, itu bukan angka yang kecil untuk uang, maka siang itu kuhabiskan waktu hampir 2 jam mencari mahasiswa dan mahasiswi lain yang ingin meregistrasikan diri, singkat kata aku buang semua rasa malu bahkan sampai dikira penipu oleh mahasiswa lain, bayangkan saja setiap orang yang ingin registrasi ku cegat dan kusuruh membeli kwitansiku, dan akhirnya terjual meski tetap dikira penipu. Malam itu sambil belajar aku telpon Ayah dan kujelaskan bahwa aku batal ikut tes jalur SMUT, entah reaksi Ayah saat itu, Ayah hanya bilang “Iya sudah”. besok harinya tes dan sorenya aku langsung pulang. Aku tak ingin merepotkan Ayah yang menjaga toko setiap hari.
Tiga hari berikutnya pengumuman tes jalur pertama Uniska, aku tak bisa berangkat, maka aku hanya minta bantuan temanku untuk melihatkan nama ku. Alhamdulillah ternyata lulus. Paling tidak bisa lega sedikit, meski sudah diterima di Uniska aku masih menginginkan untuk mengikuti tes terakhir Unlam jalur mandiri. Karena memang dari awal tujuan kuliah pertamaku adalah Unlam. Dengan persiapan yang Alhamdulillah matang karna kalau dihitung dari setelah lulus sampai tes yang terakhir Unlam sebulanan penuh tetap belajar. Ketika jalur mandiri Unlam dibuka maka, kembali lagi berangkat ke Banjarmasin, sendirian. Semua yang kulakuan dari awal sampai akhir sendiri, meski ada pula yang membantuku berangkat tes dan menungguiku sampai pulang ketika tes di Uniska, Ka Chumpo terimakash banyak dan ka Gina yang sudah susah payah melihatkan nama ku setelah pengumuman penerimaannya J. Kini tes mandiri aku masih mandiri, masih melakukan segalanya, mulai dari pendaftaran, registrasi sampai tes tertulis, wawancara dan tes napza. Ketika mandiri ini aku masih merasa bersemangat karna ada satu sahabat kecilku juga mengikuti tes jalur mandiri ini, Anggiat. Dua hari tes makan tenaga yang tidak sedikit pula, semua melelahkan besok lah yang paling mendebarkan karna besok pengumumannya, padahal saat itu kami berencana ingin pulang. Tapi ternyata pengumuman lebih cepat. Dengan perasaan gugup kami melihat papan pengumuman didepan kantor BAAK, saling rebut, selip dan berteriak permisi untuk mendapatkan tempat didepan melihat jelas. Di baris pengumuman Prodi, kami hampir kecewa karna kami tidak menemukan nama kami, tapi ternyata nama ku sendiri terselip ditengah, Anggiat sendiri juga diantara 56 mahasiswa/i. kami merasa benar-benar beruntung, diantara seratus lebih mahasiswa/i yang mendaftar, kami lulus dari pengguguran separuhnya. Teman-temanku yang lain juga lulus di jalur mandiri ini, Andri, Emon, Wahidah, dan Pebri, masing-masing mengambil jurusan dan prodi yang berbeda pula selain aku dan Anggi. Andri mengambil FKIP Prodi Sosiologi, Emon FISIP Jurusan Komunikasi, dan Pebri FKIP Geografi. Tapi setelah sampai registrasi ternyata dua teman kami tidak bisa karna ada masalah uang dan faktor keluarga. Meski kami kecewa dan turut sedih perjuangan diakhir yang bersama-sama yag harus kami rasakan bersama-sama pula ternyata tidak semua yang bisa merasakannya. Dan aku pribadi sendiri merasa sangat banyak sekali pelajaran yang bisa kuambil dari perjalanan perjuangan untuk menjadi seorang mahasiswa sampai sekarang aku berada di semester dua ini. Kini Aku tinggal membuktikan cita-cita dan harapan yang membuat aku bersikeras masuk dan diterima di English Department of Unlam ini. Yaitu berkuliah di luar negeri. Semoga amin.
Aduh, Ka! Pian tu, heh! Mirip banar kaya ulun. Anak IPA, yg dapat nilai 9 dimata pelajaran yang sama. Punya kepintaran di Mata pelajaran yang sama waktu SMA. Pengen masuk PRODI yang sama cuma beda waktu. Sekaran aku juga lagi di Jalur Mandiri, kak! Eh, iya! Sama - sama pengen kuliah ke luar negeri pula! Doa'in masuk, ya!
BalasHapusSama, ortu gk dukung malah menjatuhkan... Memang siapa gue bisa jamin lulus Sastra inggris langsung sukses... Pertanyaan konyol dari ortu. Menjalani aja belum kuliahnya
BalasHapusSama, ortu gk dukung malah menjatuhkan... Memang siapa gue bisa jamin lulus Sastra inggris langsung sukses... Pertanyaan konyol dari ortu. Menjalani aja belum kuliahnya
BalasHapus