Kamis, 17 Mei 2012

Secrets of This Soul
oleh Bibi Jamu pada 8 September 2010 pukul 0:39 ·

Darkness won't me, Lightness won't me.
Where am I,? Who am I,?
Would anyone and anybody deserve me,? desire my Life,?
I've never felt it, sometimes, yet or later then.
Here, in my soul
Alone. . .
I've never wanted this way, before.
I think enough for this taste of my hateful.
You'd halve my breath, my heart and so too my mind.
I haste to hallow my sin and my sorrow.
Could I hold and confidence Your fake.?
Fancy fallow in Your faithlees of falsehood on this ground.
I never wish and thought my life is gonna be like this.
But You,
I ain't You,
It's You, that isn't me.
It mask. . .
No matter what You said, anything Your reason.
I don't know who You are but how could that I am with You, inside trying to loving You back. . .
If Im looking for the empty place of cavity.
There is Your face
Always slapping my minds. . .

Curut Sialan.!!!

oleh Bibi Jamu pada 18 November 2010 pukul 18:35 ·

Kala malam gulita kelap
Tak ada cakap sikit terdengar dengkur sayup
Nyenyak ku dalam mimpi manisku...

Tiba malam beranjak malam
Aku merasa jari-jariku kelu terasa
Terjaga oleh peningnya malam itu
Keringat bercucuran tak kuasa

Aku bangun nyalakan sebuah sinar...

DEG.!!!

Betapa terkejut hati menjerit
Jantung berpacu cepat
Degupnya terdengar fakta. . .

Kulihat jari tunjuk, jempol serta kasur bersimbah darah.!

Ah... Hampir pingsan aku dibuatnya, darah itu terus mengucur tetes demi tetes dari jariku jatuh ke lantai. . ,

Ternyata jariku digigit oleh tikus curut sialan.!!!!!!!!!!!!!!!!
LOEEEEEHH GUEEEHH ENDDHHHHH…!!!!!

Cowok ≡ Ayah kamu tukang kebun yaa.???
Cewek ≡ Iyaa, kenapa.?
Cowok ≡ Kamu udah siramin hati aku hingga berbunga-bunga... :)

Cowok ≡ Ayah kamu tukang martabak yaa.???
Cewek ≡ (malu-malu) Iyaa kok tau.???
Cowok ≡ Iya, karna kamu spesial dihati aku
Cowok ≡ Ayah kamu tukang ledeng yaa.???
Cewek ≡ Iya tau darimana.???
Cowok ≡ Karna kamu udah menambal luka hati aku yang bocor... XD

Cowok ≡ Ayah kamu tukang asongan yaa.???
Cewek ≡ Ssssstt, Jangan keras-keras bego, emank kenapa.???
Cowok ≡ Coz kamu udah bawain macem-macem nih makanan buat aku... XDD

Cowok ≡ Ayah kamu maling yaa.???
Cewek ≡ *plaaakk,! bangsat, tau darimana kamu.???
Cowok ≡ Tuh digebukin massa... XDDD

Cowok ≡ Ayah kamu tukang sunat yaa.???
Cewek ≡ *plaaakkk,! bukh,! dugh,! lo lama-lama nyebelin yaa.??? kenapa sih sama Ayah aku, kamu suka sama dia yaa.??? homo lo yaa.???
Cowok ≡ (tersipu malu) sebenarnya aku lebih suka sama Mamah kamu ketimbang Ayahmu, Ayah kamu mainnya kasar...
Cewek ≡ Grrrrrrrrr (berobah jadi king kong) sini loh,!!! mo gue makan lo idup-idup...!!!!!!!!!!!#$@!#@$^^%&^^#%#$*

@QyQyOda

 https://www.facebook.com/bibi.jamu
ATHEIS
18 Januari 2011

Dalam bahasa sederhananya adalah seseorang yang tidak terikat konvensi agama. Dalam hal ini ia hanya berpikir kompleks bahwa agama hanyalah sebuah ikatan yang menjadi beban dalam kehidupannya. Saya berfikir orang yang atheis hanya menggunakan otak, realitas dan fakta saja. Tapi yang saya bingung adalah pandangan atau persepsi mereka yang menganggap hidup dengan agama adalah suatu beban yang menjadi konvensi kehidupan bebasnya. Bahwa agama hanyalah sebuah ikatan yang meributkan, mengharamkan menghalalkan segala problem yang ada pada diri manusia, mereka berfikir bahwa agama hanyalah sebuah rekayasa yang memprogram manusia dan mengekang mereka dalam kebebasan berevolusi dan bereksperimen, kenapa harus susah-susah menjalankan perintah ini itu dari Tuhan, menjauhkan segala macam aspek yang menurut Tuhan itu adalah haram? Toh aku melihat kalian sibuk dalam pekerjaan saja adalah suatu hal yang membebankan pikiran kalian, kenapa harus ditambah dengan segala macam ibadah yang diwajibkan Tuhan kalian, sedang kalian sendiri kadang enggan melakukan atau menjalankan konvensi runyam itu, bukankah itu fakta?”.

Bagi kami Tuhan hanyalah sebuah keberuntungan, terlalu ribet rasanya kalau hidup harus terkekang oleh konvensi yang sering kalian ributkan itu. Berfikir secara kompleks namun pintar adalah persepsi hidup kami. Toh dengan pendidikanlah kalian dan kami bisa seperti ini, lalu apa saja sebenarnya dosa dan pahala itu bagi kalian, orang yang baik dan benar mendapatkan pahala sedang orang yang salah atau jahat mendapat dosa, bukankah sekarang banyak orang yang lebih munafik dari seekor binatang, pikirkanlah. Kalian berbuat baik seolah-olah hanyalah untuk mendapatkan ganjaran pahala dan surga yang dijanjikan Tuhan kalian, tapi bagaimana dengan kemunafikan kalian itu?. Sedang binatang hanya berbuat sesuai apa adanya, tanpa harus tahu ia mendapat pahala atau tidak. Dan kalian akan berbuat curang jika kalian terdesak dan terhimpit dengan alasan ini itu, misal saja dengan hal kecil, kalian menyontek, bukankah kalian tahu kalau menyontek itu adalah perbuatan dosa, lalu kenapa kalian menyontek, kalian bilang kalian terdesak, agama A dan B menurut kami hanyalah suatu tali atau komputer yang mengekang dan memprogram otak manusia untuk berpikir kompleks bahwa kelak mereka mati kalian akan mendapat ganjaran SURGA dan NERAKA, apa kalian yakin akan hal itu, toh aku sendiri pun masih ragu akan fakta itu. Kami memang tidak beragama tapi kami menjalankan persepsi kami mana yang menurut kami benar dan mana menurut kami salah, hanya itu, sederhana sajakan? toh kami tidak pernah menyalahgunakan konvensi yang kalian buat. Kami hidup pun secara normatif meski kebebasan adalah hal mutlak bagi kami. Tapi kebebasan kami hanyalah pada sebatas hal benar, fakta saja, itu berarti kami pun terikat oleh problem benar atau salah saja. Tapi perilaku kami seperti ini bukan karena tanpa dasar, kami pun mengakui bahwa Tuhan itu memang ada, tapi Tuhan dalam defenisi kami hanyalah sebuah keberuntungan dalam hidup. Tuhan dalam persepsi kami tidak ada ikut campur tangan akan apa yang kami lakukan toh kami tetap menjaga kebebasan kami dengan perilaku normatif dan tidak melanggar suatu konvensi manapun  baik agama atau lembaga apa saja. Kalau kalian berfikir bahwa orang yang tidak beragama akan masuk neraka. Lalu apakah orang yang sudah beragama tapi tetap melakukan kesalahan bahkan lebih kejam sepeti orang yang tidak berpendidikan dan beragama akan masuk surga, apa itu adalah salah satu fakta keji kehidupan?, dan Tuhan akan mengampuni kemunafikan mereka karena mereka beragama?. Lalu bagaimana jika orang itu beragama namun tidak seagama dengan kalian? Apa semua kebaikan yang kita buat didunia tidak ada harganya jika kita tidak beragama dan tidak seagama? sesia-sia itukah kebaikan yang kalian anggap pahala itu di mata Tuhan kalian kelak? bukankah itu seperti permainan keberuntungan atau perlombaan? jika kita kalah semua usaha yang susah payah kita lakukan akan jadi sia-sia, dan jika kita menang kita akan mendapatkan kebahagiaan. Apa Tuhan kalian akan menempatkan surga sesuai dengan agama yang kalian anut?. Apa Tuhan itu berbeda? Apa Tuhan itu banyak dan berbeda? Toh jika dalam pandangan kalian sama kenapa tidak kalian gabungkan saja jika Tuhan dalam defenisi kalian itu sama, kenapa harus kalian kotak-kotakkan?
Aku Balum Handak Pacaran…!!! (karamput jar…!!!) ;P
  
Alasan Malas Pacaran


1.      Banyak Biaya
Pacaran??? Kaina gen amun ku sudah BEGAWI…  SUPAN tahulah pacaran amun masih pakai duit boss (ortu,) ujar urang tutuhaan tuh, bahira ja masih dibasuhi (apa hubungannya???????)  salah peribahasa, D.U.I.T. ja masih menanai tangan dulu pakai muha bungul maras.!!! Handak leha leho pacaran ihi ihi, MUHA NYAWA BALUM DIBANGKIT…!!! (kenapa jadi emosi), gasan hidup saurang haja sarabanya dah (KURANG), parut maharit kelaparan sahari sebungkus Indomie, soto banjar ha pulang (eh???), balum lagi bayar kost, bayar banyu, bayar HUTANG lawan kawal nang hakun aja mahutangi padahal papadaan sakit jua (apa jar??? Maras lalu, parah parah parah, tapi dasar ada nang kaya tuh pank tuh ae, FAKTA ANAK KOST, kawan unda pank lah laen unda XPPP)…
Lha ini handak P.A.C.A.R.A.N. , handak C.I.N.T.A. kah jar bahasa band D. Tatindaz tuh,,,,,,,,,  adoooohh aee sakit lalu, paray iruy, tutup warung acil iruy gara-gara nih lagu A.L.A.Y. (OOT. Parah lalu ae Indonesia nih magin hari magin kedada yang bujurnya masalah band band di Indonesia, K*NG*N band, S*LJ* band, dan band band ALAY lainnya, boyband, girlband, kena saku ada bencong band,,, ntar unda bakisah lagi di next episode…!!! Yeeaaaaaahhh) bulik dikisah oy, ini handak pacaran jar, cinta-cintaan jar, sayang-sayangan jar, bebeh-bebehan, mamih-papihan, (ini lanjut di lain kisah aja gin jua…)…………….. kam habisakan duit kiriman/duit bulanja kam gasan nraktir anak orang,,, Abah Mama kam maka,,, tepaluh darah kasian mencarinya (DUIT) !!! BAYANGKAN...!!! BAYANGKAN...!!! BAYANGKAN...!!! (ESQModeOn)

2.      Buang Waktu
“nAh q Nd4K BtQh0eN w4n b0w4nAn iQm” (ngetik Alay style:P,,, Masalah Alay juga ada di next episode amun oEn wuZ cMesC3y 1 n33h taahh, aMmiiiiiinnn X))), BTT, (MGR, kawan sma ku pernah bekisah kaeni walaupun nyatanya wahini bapacar ae jua, padahal ndak kawin hulu jar, hanyar kahilir)…
Beapa aja kam pacaran??? Tuh diluar sana di luar negeri sana ada istilah annakon hi dohamoraon (kada ngarti jua aku artinya), tapi jar anak Edept (cieeee) “Time Is Money” artinya bukan berarti kam naik angkot ke UnLam trus km bayar pakai waktu nak ae(cobai haa, amun kada dilapau pamannya XPPP)…  Nang bujur pemahamannya tuh “Setiap Waktu Yang Mengalir Pasti Gak Bakalan Bisa Terulang” (QUOTE THIS WEEK,,,!!! prok, prok, prok, takeabow, takeabow),,, dan itu sama seperti uang yang harus digunakan dan dimanfaatkan sebaik mungkin bahkan ada pepatah cina “kaisarpun tidak bisa membeli masa lalu”, artinya RHOMA, mau paluh bau masam kam dihargai 100 juta tatap kada bisa kam tukar waktu yang sudah lewat tuh lawan paluh kam nang bau naga tuh.. :P Bill Gates ja bisa tetangis darah gara-gara kebungulan kam,,,
Trus pank apa analoginya (hubungannya amun yang kada paham napa arti analogi) nah,,, sadar atau kada kam, ku ndak betakkon (betasydid) terkadang pacaran buang waktu kam kada??? Syukur ae amun gaya pacaran kam misalnya begawian kelompok PR, atau maen bultang, basket, bola (lho?) nang mulah bagian kam sihat (umay ae heh, hulu lalu pandiran,,, TT maraha,,,), sigar, berstamina (wow), nah amun kada,??? Kujuk sana-sini, kamari-kamara, atau kaya si Nanang lawan Galuh nang mirip lomba behinip, duduk bepandir kada jelas, kurihing-kurihing hah heh hah hoh, (kada tahu gigi bejigong, ada bakas Lombok limbah makan nasi kuning wadah acil isul, misalnya, misalnya),,, amun dikalkulasi (wayooo kaya pintar tu MTK) waktu kam pacaran bejam-jam tuh,,, ah RUGI TUH AE…!!! Ckckckckckckkcckk (geleng-geleng), kam bisa meulah “kota hanyar” ibarat main CityVille di pesbuk… XDDD

3.      Beapaaaa Hayoooo??????? XDDD
“nAh q Nd4K BtQh0eN w4n b0w4nAn iQm” (ngetik ala Alay style:P again). Beapa aja bagian kam selama pacaran, neh, neh, neh (digampar, digeplak, digebukin sama yang ngerasa…) XDDD
Masih tentang si MGR nah, nih anak padahal pendiam lalu, tapi waktu debat agama soal “Pacaran di Jaman (not Zaman) Modern” sekarang nih, entah kenapa nya langsung bediri, pina rancap dan Omeh lalu membahas debat nih, samar-samar haa, aku ingat pandirannya,,,
“Apa yang mau kalian cari saat pacaran? kenalan? pengen cari calon istri yang baik? kalo kenalan aja, cukup kenal nama dan biodata cukup kan? kalo kalian mau cari calon istri apa yakin bisa tahan ampe nikah nanti? kita sekarang udah kelas 3 cuy,(kada nyangka nih anak bisa bepandir pakai “cuy” jua),,, kalo misalnya kalian pacaran sekarang ampe tamat kuliah, kira-kira 5 tahun, kemudian 2 tahun masa cari kerja.. artinya 7 tahun pacaran!!! Gak muak kalian??? Mending nikah dulu baru pacaran, enak dulu baru sakit belakangan (hhhhh, bejat jua nih anak sekalinya, diam-diam kada meulah hanyut lagi, terabah waluh uy)…
Limbah tuh diluar konteks, waktu asyik bepandiran masalah yang sama, dimuka kelas (padahal kelas lain sudah masukan, kami ja pina bangang diluaran), ada kawan unda si MIZ nyeplas nyeplos dengan bangganya, jar urang betawi tuh “Punya congor asal jeblak”, ngomong kegini……………. (jadi kada konsis bahasanya,,, TT secara gue anak IPA, IPA gaul, jenius dan cerdas, 17 taun wey [padahal sudah pendewasaan dini, kada tahu gara-gara apa, tapi gue masih tetep anak ganteng yang masih dalam pertumbuhan normal walaupun otakku mengalami pendewasaan dini gara-gara gue jenius, secara gue IPA getoh kan, cerdas] *pasang muka autis+digampar) XDDD
Oke BBT, sampai dimana tadi kita??? Oh sampai harga telur naek dipasaran, Gedubrraaaakkk…!!!
Nah, si MIZ ini bepandir lawan gaya senga sesenga-senganya (pokoknya muhanya tu minta ditabok tu pank), jar nya”PACARAN TUH BUAT MUASIN NAFSU GUE DOANK” (trus digebukin deh dia sama cewek-cewek yang denger), kada, kada, kada,,, waktu tu yang kumpul-kumpul cuman aku, si MIZ, MGR, si IPJ, RGR, AM, dan si PLN (lho?) serta teman-teman yang aku sudah lupa maaf, mukelu abstrak sih,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, dan maklum cowok mah sedikit di IPA, masuk aja setengah mati,,, TT
Tiba-tiba si MGR nih langsung bediri samar-samar ja pank aku ingat pandirannya dengan dialek bugis kentalnya bekuciak… “TEGA KO NGOMONG GITU!!!, KO BAYANGKAN IBU, KAKAK, ATO ADEK PEREMPUAN KO DIGITUKAN ORANG??? TEGA KO HAH,!!! TEGA…???
Seketika suasana jadi hening boss, gila ni anak, punya aura haki juga ternyata, dan si MIZ langsung menatap nanar si MGR, pandangan mereka saling bertemu dan berkilat-kilat seketika petir menyambar,,, “ADA APA INI RIBUT-RIBUT??? KALIAN GAK TAU APA INI UDAH JAM MASUK??? SIAPA GURU KELAS KALIAN???” dan seketika semua gelap gulita, dengan diakhiri ending sendawa ku yang begitu nyaring “Eee…………………………………..”

4.      Teman Hilang, Hobi Rusak, Pekerjaan Melayang
Rancak dah kita mendangar kalo ada si utuh yang kahilangan gawiannya (X: Jadi tukang gali sumur, tukang gali kubur, tukang kaki lima (?), atau mungkin kehilangan kerjaan sampingan (laki-laki penghibur misal, haa.??? Gara-gara pacaran juga slogan temen “Kalo gak ada lo gak rame”, How’s your feeling…??? Ketika temen-temen ngucilin lo, secara gamblang dan perdasarkan pengalaman dan pengamatan pacaran itu menuntut kita menjadi seorang Dwi-Tunggal, mengapa bisa begitu? Lha iya wong waktu kalian pacaran dunia serasa milik berdua, yang lain pada ngontrak, jamban aja bayar gope,,, setahu unda pacaran tuh identik dengan “Apel Malam Minggu” (yang ngarannya apel ya pasti berdua, kalo rame-rame rombongan Paskibra), sms-an berduaan(lha iyaya…???), jalan berdua, makan berdua, ato jangan-jangan jamban dibikin berdua juga…??? Lha pokoke everythings serba toh together lah. Lha kalo udah gitu temen, keluarga, pekerjaan sama kembaran km Soimah…??? Kayapa…??? Ya syukur-syukur kalo dapet cewek yang temirip lawan istilah “Ada Wanita Hebat dibalik Seorang Pria Hebat”, who cares n support ya always, lha kalo kada…??? Yakin unda kalo Aristoteles bakal bangkit dari kubur kuciak-kuciak “Humans are social beings woy…!!!”

5.      Pacaran ? HARAM !!!
Jika ke empat alasan diatas, lebih condong dikemukakan kaum-kaum yang dari golongan pemikir, para hardworker, dan para jomblois dan Mungkin diantara semua alasan inilah paling ekstrim, dan alasan yang sering dipakai/dikemukakan oleh para kaum Agamais atau para aktivis dakwah jika ditanya tanggapannya tentang PACARAN, tapi unda kada munafik kalo unda gin punya cewek spesial, tapi unda kada makai status PACARAN tapi lebih ke SAHABAT SPESIAL, aku aja bingung sebenarnya kata pacaran tu berasal dari kata pacar, pacar tu dari bahasa apa sih…??? Anak-anak sekarang tuh pada lebay dan alay, kebanyakan nonton film romantis, whattahell you think kawaaannn, hidup kalian masih panjang, mau diapakan umur pendek bagian nyawa gasan mehabisakan waktu gasan pacaraaaaaaaaaaaaannn mulu, gaalaaaaaauuu mulu gara-gara soal cinta, padahal kalian sudah tahu hukumnya apa PACARAN itu…??? Sedikit unda ulas nah, sebenarnya ini kada SARA, tapi jadikanlah sebagai bahan pikiran bagian kam, kalo masih nolak, otak kalian sudah termindset tu berarti untuk hidup dengan kealayan kalian soal pacaran.

“Janganlah kamu sekalian mendekati perzinahan, karena zina itu adalah perbuatan yang keji…” (QS. Al-Isra : 32).
Istilah pacaran yang dilakukan oleh anak-anak muda sekarang ini tidak ada dalam Islam. Yang ada dalam Islam ada yang disebut “Khitbah” atau masa tunangan. Masa tunangan ini adalah masa perkenalan, sehingga kalau misalnya setelah khitbah putus, tidak akan mempunyai dampak seperti kalau putus setelah nikah. Dalam masa pertunangan keduanya boleh bertemu dan berbincang-bincang di tempat yang aman, maksudnya ada orang ketiga meskipun tidak terlalu dekat duduknya dengan mereka.

Kalau dilihat dari hukum Islam, pacaran yang dilakukan oleh anak-anak sekarang adalah haram. Mengapa haram?
Karena pacaran itu akan membawa kepada perzinahan dimana zina adalah termasuk dosa besar, dan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. Oleh karena itu ayatnya berbunyi sebagaimana yang dikutip di awal tulisan ini. Ayat tersebut tidak mengatakan jangan berzina, tetapi jangan mendekati zina, mengapa demikian ? Karena biasanya orang yang berzina itu tidak langsung, tetapi melalui tahapan-tahapan seperti : saling memandang, berkenalan, bercumbu kemudian baru berbuat zina yang terkutuk itu.
Banyak diantara pemuda dan pemudi yang lebih terdorong oleh rasa ketertarikan semata, sebab dari sisi kedewasaan, usia, kemampuan finansial dan persiapan lainnya dalam membentuk rumah tangga, mereka sangat belum siap.

Lalu masih mau pacaran…???

Rabu, 16 Mei 2012

Kado Ulang Tahun 17 ku ada di event "A Week With English"... :)))

          Bukan hadiah berbentuk kado yang diberikan orang kepadaku tapi Tuhan telah memberikan hal yang lebih spesial lagi dibandingkan sebuah kado :)))

Yaitu teman-teman baru, lingkungan baru, kenalan baru, semua serba baru...

         Speechless sih setelah tau gimana orang-orang sekelilingku disini, karna ternyata banyak yang lebih gila dari aku, aku cinta Enigma Teater ku beserta orang-orang didalamnya, Yeni, Windy, Icha, Vika, Nisa, ka Mery, Amank, ka Gaza, ka Birrul, ka Lala, ka Echa, ka Ina, ka Sufi, abang Ojan juga(ni gak jelas nih anak B.Ing ato anak Geo sih.??? Hahaha coz kalo ada ka Mery pasti ada abang Ojan, lha?) ka Juju (heddeeeehh males banar menyebut ngaran ini, meding ku kuciak-kuciak manggil kerang ajaib, heran aku apa coba sesuatu yang mulah kaka-kaka tingkatku langsung menjudge kalo aku ading Juju, sampai-sampai ka Gilang aja talkin’ like this tadi “Adingnya Juju bujurankah???”, biaaarr kadiiiiirrr… piss XD hahaha)

         Dan buat yang lain yang belum kenal juga, hay (apa coba), aku cinta kuliahku beserta dosen-dosen dan temen-temen kelasku, (B3 terutama) buat ketua kelas yaa, Hesty dan wakilnya NurFie(pasangan yuri mengerikan that I’ve ever know, kadang suka bergidik kalo mereka kumat,,, maaf aku gak liat, aku gak liat.!!!), buat pemilik-pemilik suara mpok Nori si Annis dan Mia(nih orang suka bikin tele kuping tehambur kalo lagi ngomong.!!! Hahaha XD), buat pasangan yuri lain juga, Ratry dan Dede (si jantan dan si genit, ih waw), pasangan yaoi Esva dan Emon, hahahaa, dll yang gak bias kusebutin soalnya tintanya habis mau beli mahal mas, lagi bulan tua juga malah. Finally aku cinta temen-temen REG B ku, temen-temen seperjuanganku,,, <3<3<3 X)))

        Aku juga cinta teman-teman 4 serangkaiku yang suka jalan kemana-mana, gila dan hebohnya kemana-mana, Dika(plis ya Dik, just keep safe aja kalo lagi naek montor, ku sampe komat-kamit, sampe keseleo lidah baca ayat kalo kam bawa montor), Windy(hahaha nih orang paling cerewet dah kalo soal sms), dan Icha(cewek aneh yang suka gak mandi kalo turun kuliah dan keras kepala,!!! kalo dia pengen A kami mesti A juga, kalo gak barang-barang penting kami suka dicurinya, lho ambigu euy),,,

          I love everythings around me here, love ya guys, terutama buat sahabatku sekarang, yang sama gilanya denganku, Yeni “Ratu Pantai Takisung/Ratu Pulau Komodo”, hahahahahahahahahahaa, without ya I think Ive neva been grow up in art, exactly in Theater, aku cinta dunia seni, I think being here I can take and getting what Ive always wanted in my life, Im up now, be the first person who change anything in my life and around me, Yeni, I’ll be honestly now, that you are my inspiration, aku bukan orang yang mudah enjoy sebenarnya ditengah keramaian, Im not “PD”ous like you, itu sebabnya kupikir aku orang GILA dikelasku dulu, tapi ternyata masih banyak yang lebih GILA daripada aku, X)))

But now I think I can take a lil bit my PD, hope be better (lebih GILA daripada Yeni maksudnya hahaha),,,

      Gila bareng sama anak-anak Gleek kampus, ka Mery, ka Sufi, ka Juju (heddeeeehh males banar menyebut ngaran ini lagi, piss), nyanyi-nyanyi, joget-joget gak jelas, meski dianggap sedeng kek sama orang, aku senangcuz nothing diskriminan in campus, gak ada perbedaan sama kakak atau adik semesternya, yang penting kita satu tujuan, (gak tau tujuannya apa,??? yang jelas semua berjalan begitu saja), terlalu cepat malah, ini aja udah masuk midtest, coz gak kerasa udah tiga bulan menjalani masa kuliah,,,

Sekali lagi event AWWE adalah puncak dari sebuah kado dari Tuhan buatku di umurku yang sekarang, terimakasih buat ucapan-ucapan dan do’a yang sudah diberikan, wish will be happen…

BERSAMBUNG… (tunggu cerita ultahku selanjutnya) X)

oleh Bibi Jamu pada 30 Oktober 2011 pukul 11:35 ·

Tiga Mata Rantai Kasus Remaja

          Saat ini Narkoba, Free Sex, dan AIDS sangat rentan untuk menghinggapi remaja pada abad milenium ini. Meski penyebarannya yang tidak pandang bulu memilih korban, namun hal yang paling rentan terjerumus dan terikat pada tiga poin yang telah disebutkan diatas adalah remaja. Lalu kenapa jadi saya katakan remaja menjadi umpan yang pas sebagai korban atau pun perantara pada tiga hal tersebut.??? Jawabannya karena dunia remaja sangat global, mereka sangat agresif pada suatu konvensi karena kondisi kejiwaan yang masih labil, menerima suatu kebudayaan tanpa batas, serta rasa ingin tahu dan ingin coba-coba yang sangat kuat.
 
         Narkoba, Free Sex dan AIDS seperti sebuah rantai yang saling berhubungan dan terikat satu sama lain. Lalu  dimanakah induk dari tiga permasalahan berat ini?. Pada dasar nya permasalahan seorang manusia terutama pada remaja itu terdiri dari 2 faktor kompleks penting yaitu faktor intern dan faktor ekstern.  Faktor Intern berasal dari dalam diri remaja itu sendiri, kondisi kejiwaan, dorongan rasa ingin tahu atau ingin coba-coba. Namun yang mempengaruhi faktor intern biasanya berasal dari faktor ekstern/luar atau yang sering disebut faktor lingkungan. Pergaulan bebas, rasa depresi dan stress yang berkepanjangan dalam lingkup sosial merupakan salah satu alasan yang menyebabkan si remaja jatuh pada kesalahan fatal ini. Menjadikan semacam  trial and error, sebagai pelarian dari sebuah masalah namun tidak memiliki solusi yang tuntas, mencoba-coba akhirnya malah menjadi petaka.
 
      Terlebih-lebih untuk kasus penyalahgunaan narkoba, maraknya kasus ini sungguh memprihatinkan. Bahkan, menurut data Badan Narkotika Provinsi (BNP), Kalimantan Selatan mendapat peringkat ketujuh untuk ketersediaan dan pemakaian narkoba. Dan mayoritas rentang usia yang terpaut kasus ini berkisar antara 20-45 tahun dan minoritas pada usia 16-20. Jika anak-anak bangsa kita saja sudah tersandung permasalahan seperti ini, lalu pada siapa kita menggantungkan masa depan tanah air kita. Narkoba memang dikenal sebagai pembunuh dingin masa depan seorang manusia. Ia tak pernah memandang kalangan dalam memakan korban-korbannya. Dari kalangan berduit sampai golongan papa, dari artis bahkan orang awam sekalipun.
 
        Sesungguhnya ada beberapa cara memang untuk mencegah dan meminimalisir dalam penanganan-penanganan masalah-masalah sosial. Amun secara garis besar dibagi menjadi empat bagian dalam pengaplikasiannya yaitu preventif, edukatif, rehabilitatif dan kuratif. Dan menurut pengalaman yang ada penanganan sebuah masalah sosial dengan menggunakan cara rehabilitatif dan kuratif itu seperti menangani ekornya saja. Seperti puncak gunung es padahal dibawahnya masih banyak yang harus dipecahkan dan inti dari permasalahan itu masih dipertanyakan. Oleh sebab itu saya membuat solusi yang mungkin dapat diaplikasikan dengan mudah. Karena kita sebagai makhluk sosial, makhluk yang beriman dan berTuhan serta berperi kemanusiaan, hendaknya kita tidak memberati beban mereka dalam permasalahan ini, sebaliknya kita harus mengambil bagian dari dunia mereka. Keluarga adalah lingkungan atau wadah yang paling pertama dan utama sebagai pembentukan karakter dan kepribadian manusia. Hendaknya mengayomi, mengajarkan mendidik serta memberikan dukungan moral mengenai pemecahan permasalahan sosial ini. Pendidikan anak pada usia dini adalah cara yang mungkin paling baik. Tidak perlu malu atau pun tak tahu menahu pada sebuah masalah, ajarkanlah pendidikan tentang narkoba dan seks pada anak kita. Itu sebabnya orang tua dituntut harus lebih pintar dari anak, paling tidak mempunyai wawasan yang luas untuk meenerangkannya, ajarkan untuk berkata tidak sejak dini. Selanjutnya lingkungan sekolah , sekolah disini bukan hanya berperan sebagai tenaga pendidik dan pengajar saja, tetapi bisa juga menjadi sarana dan prasana dalam mengambil bagian dengan dunia mereka. Sebagai contoh pengadaan razia itu membentuk kedisipilinan mereka pada sebuah aturan. Sekolah yang baik adalah sekolah yang mengetahui, mengerti, serta memberikan solusi yang tepat pada  kemauan anak-anak didik mereka. Lalu lingkungan ketiga adalah masyarakat, masyarakat yang cerdas pastinya mampu menekankan dan memperingati tindak asusila pada permasalahan ini, bukan dengan cara main hakim sendiri, hal ini bisa saja terjadi mengingat minimnya penyuluhan dan akses yang sangat memungkinkan untuk mendapatkan barang harama tersebut. Dan yang terakhir dan paling penting adalah kesadaran diri. Mungkin ketiga solusi diatas tidak akan berhasil tanpa adanya kesadaran diri kita masing-masing.
 
Ingatlah selalu bahwa Teori hanya berarti jika ada implementasi. Rencana hanya akan jadi nyata jika ada usaha. Kuasai teori, matangkan rencana, aplikasikan dalam tindakan nyata.
 
Tanah Bumbu, 18 januari 2011
Muhammad Rizky Akbar
XII IPA 1

The Owl
 
A carved wooden Owl looked out of a shop window. Staring at the bus stop across the street as if it were a hedgerow full of mice.
     An unremarkable looking woman. Not young, not old, and not married, stood on the pavement and looked in at it, returning the stare. Owls she knew a little about. She knew a little about most things. This was a Tawny Owl, not a little Owl. No ear tufts, or was it the other way round? About wood though, she knew a little less. Guessed she could recognise oak, as that was the same as her photograph box. And she knew what mahogany looked like, as her small table in the lounge had been identified as such by her Father, whose word she believed in anything. The wood of The Owl was neither of these. Hadn't she heard that wood carvings were from lime wood, or apple, or pear? Anyway this Owl was light brown in colour with lighter bands of grain sweeping in a curve from ears to feet. The wood at the bird's breast was lighter still. She guessed, with no knowledge, that this had been the newest wood, the part of the tree close to the bark.
     The Owl was large, over a foot tall, and she was relieved to see that its talons were not hooked into a carved, permanently suffering mouse or vole, but were curled round a thick log complete with carved knots and bark.
     The shop was on the mid-day lunch-break route from her office to the City Centre. She went out every lunchtime to get some air, buy a sandwich, and indulge in a little real shopping and a lot of window shopping. There were always plenty of things she would have bought if she had the money. Strong common sense and a limited budget meant that things she saw and would have liked, but did not need, were left in the shops for someone else to buy.
     This time was different. She did not want anyone else to buy The Owl. She wanted it as soon as she saw it. If she had been with a friend, and her companion had asked. 'Why do you want it?' Her reply would have sounded very feeble. 'Because of the way it looks out.' But that was the reason. The Owl concentrated, as if on a distant goal, and every grainy wooden feather led to its piercing eyes.
     Her head should have walked her away from the window with a calculation of her finances, but her heart walked her through the door into the shop.
     There were other customers but The Owl was close enough to the shop doorway to be accessible. She stood by it and put her hand on its head. It was smooth and just filled her palm. When she touched it something seemed to happen to her for which she could not find a word. The nearest she could get to it was 'cool', which was not normally in her vocabulary. She felt, and it was a new sensation to her, confident. She didn't have to apologise for the way she was with her hand touching The Owl. She did not have to feel vaguely sorry for her presence all the time. She felt as good and capable as anyone, not better, not worse, but as good as any other for the first time.
     The white price tag round the birds neck had turned over and was showing its blank side. Though she was not now resting her hand on the Owl's head, the confidence had remained, and she did not worry what the price might be. Her previous habit of imagining a price of thousands, and going away did not affect her today. She flipped over the tag and bent down to look at the small writing. A hundred and twenty pounds. She felt a flush and her heart and breathing became irregular for a few moments. She let go the tag and put her hand back on the Owl's head. She would have it. She even looked around the shop nervously as if the people already being served were Owl buyers. There was only one couple who were just getting their change and receipt for a wicker washing basket. She was next. It would be hers. Unless, fear struck her, unless it had been bought and they ahd forgotten to move it out of the shop or two put a label on it. Time dragged and the wicker basket transaction seemed to take for ever.
Her mind raced through a series of lightning calculations. Stop the rental of the video recorder. Ten pounds a month. Forget the usual weeks holiday on the Isle of Wight this year. Use money already saved, sixty pounds. Use the money put away for Council Tax and Water Rates, forgetting the early payment discount. All this was against the pattern of her financial life. This purchase was as alien to her as gambling the money away, or spending it on drink.
     The wicker basket left the shop and the assistant approached her. Perhaps he was expecting the usual response of 'Just Looking,' which he heard too many times a day. She anticipated his question.
     'I wish to buy The Owl please.' She said, turning and indicated the carved Owl by placing her hand on its head again.
     The assistant was vaguely non-plussed, he had not had to work to sell it, or explain it. Not that he could have done much, except to say it was an Owl, carved out of wood, both of which were perfectly obvious. He smiled and nodded at The Owl as if he had been introduced to it.
     She also pre-empted his next question.
     'I haven't got my cheque book with me I'm afraid, and I don't have a credit card. I wish to leave thirty pounds to secure it and I will call in this evening before you close with a Building Society cheque for the balance.' She seemed to rush her words, though trying to speak clearly and deliberately. 'Will that be alright?'
     The assistant still had not spoken, and was reaching for his pen.
     She had a moment of real fear. Was he now going to write on the label, 'Sold to Mr Smith or Mrs Jones' and shake his head at her. Or would he just note her name now, to wait for full payment, and sell the owl in the meantime if he could?
     'Is that alright?' She asked again, anxiously.
     'Of course Madam.' He said. 'I'll just note on the label that it is sold to you. I'll put your name on it.'
     She took her hand from The Owl's head. It was safe now. She could breathe again. 'Harrison.' She said, feeling, as usual, that she spoke her own name very strangely.
     He wrote her name and the word 'SOLD' on the tag. She produced the thirty pounds and walked with him to the till to get the receipt.
     'I'll be back at half past five.' she said. 'Thankyou very much.'
     'That's fine.' He said, 'Thankyou.'
     Outside the shop, she paused and looked at The Owl, her Owl. She was directly in its line of sight and it looked at her now. Not through her. It made her more solid, more real, her shadow was now darker on the pavement.
     As she moved away she half expected the head to move smoothly on its feathered shoulders, but it looked for rodents in the bus shelter again as she hurried back to work.
     She was Secretary to no-one in particular at a College of Further Education. She was accurate and thorough, dealing with enrolments, room allocations, timetables, payments and non-payments, and cafe takings, and anything else anyone cared to ask her to do. She had a colleague, but because this assistant was a permanently flustered woman with 'problems' the bulk of the work fell on the willing shoulders of Joan Harrison.
     'It's heavy.' Said the assistant, as she collected The Owl. 'Are you sure you can manage it?'
     She had paid the balance owing, The Owl, in a shapeless brown paper parcel was hers.
     'Oh yes.' She said. 'I live close by.' This was true, but had she lived twice as far or more, and The Owl had been twice as heavy, she would have carried it home.
     The shop assistant held the door open and she carried her treasure out as if it were the baby she had never had.
     She did live close by, owning, by parental legacy, the ground floor flat of a large three storied terrace house. It was only three streets away from the shopping area.
     The Owl's location in her home had been fixed in her mind from the moment she had seen it in the shop. In the corner of her lounge, by the door, there was a small low table, the mahogany table, which had no particular purpose except to stop the door from banging back against the wall. It also carried a vase of dusty dried flowers. The flowers went into the waste bin, the vase in the cupboard, and The Owl was unwrapped from its brown paper and sellotape and stood firmly in possession of the table, as if it were its favourite vantage in a woodland territory.
     She knelt in front of The Owl with her hands in her lap. It had not devalued, as so many things do on their way home. Its inspirational look across the room was like a beam of power. She put her hand on the smooth head as she said in her mind, though there was no one there to hear had she said it out loud, 'I hope you like it here.'
     As she stepped into the street the next morning she was smiling. This was not a common phenomenon at eight o'clock on a wet weekday morning, even for a placid disposition like hers. Before leaving the house she had rested her hand on The Owl's head and communicated with a thought 'See you later.' As she had felt the wood against her palm she had decided to enrol herself in the pottery evening class at her College. She had often thought that she would like to attend this class herself but hadn't taken the plunge. Her sensitivity had stopped her. The others would all be experts and would giggle behind their hands at her efforts. What was worse to her was, since she worked there, the other class members might think she did not have to pay. She did have to pay, just as everyone else did. Today she knew she would take the plunge and enrol, with no cold feet at the last minute. which had happened a number of times before.
     The Owl, with his head now a little shinier, watched as four terms at the College Pottery Evening Class came and went. She had caught up with the hiatus in her finances which his purchase had caused, and also recovered from the extra expense of the evening classes. During the year as she had struggled to balance her budget she would sometimes catch The Owl's eye. She would smile to re-assure it that she did not regret not having her holiday that year.
     The pottery tutor was used to thick and wobbly things being made by his students, but he saw from the earliest of Joan's efforts, a special quality. Undeveloped and latent as yet, there was a purity and delicacy of form, and a unique style that emerged week by week. Undeterred by failures in glazing and firing, and the problems of space in the small kiln at the College, she began to achieve consistent results. What the Pottery tutor did not know, but might have suspected, was that in her spare time she worked at home, in the lounge, supervised by The Owl, experimenting with colours and designing on a drawing board hour after hour. In moments of doubt or fatigue or incipient failure, a hand on The Owl would suffice to concentrate her mind as keenly as his unblinking wooden eyes.
     At the following Autumn's show of student's work at the College, one show case was filled with the creations of the Secretary, Joan Harrison. The City Museum and Art Gallery asked for the cabinet just as it was, to be loaned for exhibition in the Museum rotunda during the Annual Art Festival.
     Before the Festival the Art Director of the Museum and Art Gallery called at the ground floor flat three streets from the shops, to talk about Joan's contribution. He had made the appointment by post, enclosing his visiting card, from which she learned that he was Mr Henry England. Now in person, in the lounge, the pleasantries over, he explained. 'Exhibits at the Annual Art Festival were normally for sale, was she aware?' Yes, she was aware. 'Would she consider selling her pieces?' Yes she would, if anyone would buy them. He said there was little doubt of that, but Joan was not convinced. The Owl looked fairly sure of itself all through.
     'We will do the catalogue Miss Harrison.' The Art Director said. 'Can you let me know how much you will be asking for them?'
     How much? Joan was standing by the owl and rested her hand on its head.
     Her hand moved on the light brown patina.
     'Each piece.' He said.
     'Two hundred pounds each.' She said with her gaze as fixed and purposeful as her Owl's.
     Mr England and The Owl did not bat an eyelid.
     There were twenty pieces in the showcase. She insisted that the Director choose one piece, without charge for the Museum's Art Gallery. All the rest were sold during the first evening on display. Nearly four thousand pounds.
     She and The Owl had an easier time now balancing their financial affairs.
     The Art Director became a regular visitor to the house three streets from the shops. Mr England, who became Henry after a few months, was a widower of fifty plus. It was not evident whether Miss Harrison took other than a friendly interest in Mr England. Mr England, Henry, was very gentlemanly and cordial but nothing more. The Owl witnessed nothing untoward, and little escaped his keen eyes, in the visits to the lounge of the flat three streets from the shops. He conveyed messages of interest that had been received from other places for displays of Joan's work. He officiated for her, at her request when the local television station made a small programme featuring her. She placed a masterpiece of her art next to the Owl for the camera's benefit, and the whole of the region saw the delicate swirling dish she had made, made lighter still, by the solidity of the brown and vigilant bird. Then the country saw the programme and The Owl became famous because his picture was scratched on the base of every piece of Joan Harrison's pottery. With the advice of Henry England she progressed from a small kiln in her unused garage, to a purpose-built workshop in the previously somewhat neglected garden. She now had a kiln which had cost more than fifty Owls. Not that there were fifty other Owls to Joan. There was only her Owl. She did not attempt to make a pottery Owl, nor did she buy any more Owls, made of wood or anything else.
     Henry retired from his job as Art Director to the City's Museum Service and they were now together more of the time. She did not drive a car, never had, but now she bought for them a new estate-car, to take her work round the country, and after a time, to travel on the Continent to see her pieces displayed in Paris and Amsterdam. She was always glad to get back to the flat three streets from the shops, to rest her hand on The Owl, then put on her overall and start her wheel and kiln again in the workshop.
     When The Owl had lived on the table in the lounge for five years, Joan Harrison took Henry England to be etc. And Henry England took Joan Harrison ditto. He knew, of all their possessions, and they were able to have all the fine things they wanted, that she treasured The Owl beyond all else. He took this knowledge to the grave after fifteen years of marriage. Joan needed to rest her trembling hand on The Owl for some time after, but her life settled into work and memories of the exciting years. The world still beat a path to her door. It had to, she declined to come to the World now. As her adviser, Henry had been invaluable, but she still had The Owl, and its wise counsel carried her through those years when her own faculties were deteriorating. There was now an easy chair next to the table from which The Owl maintained its calm vigilance. She was found in that chair, her hand on the table next to The Owl. She had been a widow for over ten years and was now a widow no more.
Untukmu Wahai Yang Tersayang (season galau)
oleh Bibi Jamu pada 2 Januari 2012 pukul 0:03 ·

Perlu kau tahu wahai orang yang aku sayang...

Sudah 3 orang wanita yang menggores hati ini hingga menjadi borok,,,

Semua dalam latar cerita yang berbeda…
Wanita yang pertama berkhianat, disaat aku sudah begitu percaya dan begitu tulus, ia mencari alasan untuk putus denganku, ia bahkan bersumpah bahwa ia tak selingkuh, dan telah putus lama dengan mantannya, tapi pada fakta dan buktinya, setelah kami putus, ia begitu cepat menggantiku, dengan si A, si B, si C, dan si ABCD yang lain, dua tahun long distance relationship yang sia-sia, aku menjaga disini, ia disana tak tahu apa dilaku, panggilan sayang itu masih terngiang ditelingaku, “Sipit”, namun sekarang begitu sakit untuk diingat, apa perlu aku menggunting kelopak mata ini, mengoperasi supaya mata ini tak lagi sipit…???
Wanita yang kedua menolakku, disaat hati ini benar-benar membara, terbakar habis, hingga aku pun bingung dengan diriku sendiri, bahwa aku tak pernah merasakan perasaan dahsyat itu terhadap wanita lain selain dia, disaat aku terus memimpi, menghayal, bahkan masa depanku yang akan datang bersamanya, disaat rasa itu terus menggebu minta direalisasikan, di hari yang bahkan aku tak menyangka aku bisa menembak seorang wanita sedemikian dalam hidupku, namun apa yang terjadi, ia menolakku, dan menganggapku sahabat biasa yang special saja, tak lebih, dan dikemudian hari iya bersamanya, sahabatku, ah sudahlah, persetan dengan CINTA, waktu itu aku berpikir ini kedua kalinya, apa aku terlalu BOCIL ingusan yang masih 15 tahun, tak dewasa, atau terlalu muda untuk mengenal cinta,,,??? Ah sudahlah, lupakan, toh ia sudah bahagia dengannya, sahabatku, yah dengan segala kebohongan dan kemunafikanku aku mencoba untuk tegar dimatanya, dan yang paling menyakitkan saat terjadi percakapan ini, “Ya sudah, kayaknya kamu emank cocok jadi adekku aja,”, “Adek,,,??? Kebalik ki, harusnya aku yang jadi kakak, kan aku lebih tua dari kamu…???” (Aku jadi mikir, orang yang muda emank gak bisa jadi “kakak” yaa dari yang tua…???)
Wanita yang ketiga adalah orang yang selalu berburuk-sangka terhadapku, ia selalu berkeluh-kesah, aku tak tau diuntung, aku tak tau terimakasih, aku tak tau balas budi, balas ini itu, kurang ajar, selalu berprasangka hal-hal buruk yang tidak aku lakukan, parahnya ia memaksa aku untuk mengakui hal-hal buruk itu,,,,,,,,,,,,, aku berpikir dan bertanya, apa tak ada secuil dihatimu prasangka yang baik padaku,,,??? sehingga keluh-kesahmu tak pernah jauh dari kata suudzon, dan kau begitu bangga akan sifat itu, dengan dalih mencintaiku, tapi bagiku itu menyakitkan, bahkan terus menyayat-nyayat, dan menggores luka yang engkau tinggalkan manakala keluh-kesah itu terdengar olehku, dan bahkan aku tak lupa akan itu, tak akan pernah lupa, karna ingatanku tak seperti yang engkau kira, “Pikun”…
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Lalu kau datang wahai yang tersayang, meski aku yakin kau bukan seperti wanita yang pertama yang mampu berkhianat, meski kau bukan wanita yang kedua yang membuat hatiku begitu terbakar sama seperti kala itu, tapi api itu ada, yah kau telah menanamkan api itu untukku, yang tak tahu kapankah saatnya akan membara dan terbakar dengan hebatnya, dan kau juga bukan wanita yang ketiga, karna aku tahu, kau tahu bahwa aku bukan seperti yang tak kau tahu, karna kau mengetahuinya,,, tapi wahai orang yang tersayang, aku malah merasa aku bukan orang yang cocok untukmu, yah, aku bukan seperti kebanyakan orang yang lain, aku tak ingin pacaran, tak ada kata “pacar”, “pacaran” lagi dalam kamusku, tapi jika kau meminta aku untuk mengakui bahwa kau wanita yang spesial dihatiku diantara orang-orang spesial lainnya yang menghuni hati ini, yah aku akui,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, tapi jika kau meminta bahwa aku harus mengakui sebuah status,,, “pacar” untukmu dan menurutmu, yah aku akui, aku tak bisa mengakuinya, dengan kesadaran 100% aku akui ini, kau pun telah tau mengapa aku tak mau, yah, aku mungkin malah menyiksamu dengan hubungan yang seumur jagung ini, tapi yah sudahlah, lupakan saja aku jika memang aku tak layak, mungkin memang belum saatnya kita saling mengenal ini semua...
Maafkan aku, untuk orang yang tersayang…

"LUFUNO" (Pengakuan Terlarang)
oleh Bibi Jamu pada 16 Januari 2012

         Senja itu, Rabu 28 Desember 2011, (setelah pulang mengambil “banyu lahang” dan buah kapul not saipul (buah kesukaan mamah) dari kebun kakekku yang luasnya kira-kira sekian hektare,,, hwuuaalllaaahhh lebay kali OOTnya, XDDD Aku dan temenku sebut saja dia Paijo adeknya Paaji, temen kakak sepupuku sebut namanya Paimin adeknya Pailit, anak Om dan Tante cucunya Kakek Nenek, tapi gak punya kakak, karna dia anak sulung, (APA SIIHHH…???)

        Saat itu kami bermain teka-teki logika, permainan kesukaanku, ia memberikanku sekuntum mawar merah (lho?), Ia memberiku 4 teka-teki logika, yang kujawab semua dengan benar(nyombong,,, XDDD nah yang ini juga punya cerita tapi nanti yaa, to be continued), pas nyampe rumah salah satu adek sepupuku sebut saja dia Bunga, Bunga Bangke maksudnya, meskipun nama alias lainnya adalah Soimah adeknya Soimut,,,,,,,,,, Adek ini, adeknya dari kakak sepupuku yang tadi, anak Om dan Tante, cucunya Kakek Nenek, tapi gak punya duit, karna dia anak nomor 2, (APA HUBUNGANNYA…???) *.digebukin…

          Oke balik ketopik, nah si adek sepupu ini nanya katanya dia punya temen dari Afrika sering nge-BM dia pakai lope-lopean, sejak itu  aku sadar kenapa adek sepupuku yang masih kelas 6 SD ini nanya arti Bahasa Inggris dari kata kata cinta-cintaan dari temennya si Afrika ini ke gue, sms I Love You Baby, That’s why I love You, lope apalah, lope inilah, yah dkkl/dan kata-katalainnya lah sampe gue demek balesinnya, tiap sms, pasti nanyanya soal arti cinta, emank ada ya pelajaran SD kelas 6 dikurikulum ngebahas cinta sampe segitunya, KTSP mana tuh…??? (lha kok jadi saya yang emosi???) (parah, bisa-bisanya dia dapet temen BM orang afrika sono...TT) BTT, nah pas nyampe rumah dia nanya, katanya si temen afrik ini nge-BM, sambil berlari-lari melewati gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudera bersama teman bertualang,,, meski rintangan menghadang ia mendekat kearahku, mendekat dan mendekat, teruuuussss sampe dua bola mata kami saling bertabrakan, ctaaaarrrr.!!! Lalu kilat dan petir menyambar kayak di pelem-pelem, dan lantas dia ngomong, “Ka Riskyyyyyyy(yang bener Rizky ya not Risky lo kata gue ngebahayain, bermasalah, muka kriminal, inget ya temen-temen sebutin nama orang dengan benar, Eksample: Su-hae-mi not Suemi, lo kata suemi-suemi takut bini),,, balik.!!! “Ka Riski kalo pian harat bahasa inggeris ini apa artinya nah,(sambil nunjukkin Belekberry Curve-nya ke mukaku denge=an dekatnya, ni orang mau nyombong apa mau nonjok,???????? nih anak kecil dah bisa jadi ratu gombal nih!!! Ngerayu dulu baru ngutaraain maksudnya), trus dia nunjukin BM si afrik,  samar-samar begini isi BM-annya “I want you more, (trus pake lope lope, emo-emoan, dan bunga-bungaan bertabur sana-sini gimanaa gituh, (lo kata tabur bunga kuburan…???????), dibawahnya masih ada lagi “I don’t understand why are you always said like that, whats “maksud” mean…???”, awalnya aku cuman ketawa ngakak, ya langsung aja nih anak jadi bulan-bulananku, “Tuh afrik handak lawan kam…!!!”, nih anak mukanya udah merah, trus ngomong ”Apa gerank artinya…???” sambil pasang muka serem kayak Suzanna ketemu Kunti, lha Kuntinya yang mabor oy, kalah sere mama muke nyi Suzanna,,,,,,,,,,,, Balik.!!! Ya ku jawab aja sekenanya pake kamus google…

”Aku sangat menginginkanmu” “Aku tak mengerti kenapa kamu selalu ngomong kaetu, apa rank maksudnya “maksud”…???”, dah tahu artinya nih anak mukanya makin merah dan begonya nih anak keceplosan dengan ekspresi, malu, kesel, marah dan pengen ikut ketawa juga (nah loh, kutangguh Abang aja gin bingung mengekspresiakannya)……………….

“Itu rancak banar mengirimi ulun BM kaka Risky(lagi) ae”, nah disinilah puncak dari gelakkan tawaku yang membahana diruangan itu(bohong, padahal depan rumah), sumpah aku ngakak lepas sampe guling-guling ditanah gara-gara “Pengakuan Terlarang” nih anak, nih anak polos apa bego…???, habis deh tuh anak sampe maghrib,,,,,

 “ULUN KADA HANDAK JUA LAWAN INYA, HIRANG PANK…!!!”, Waaaaahh nih anak rasis juga ternyata, sebenarnya aku masih pengen bikin nih anak kesel sampe palanya keluar asap, tapi melihat matanya yang sudah berbinar-binar(ng, anu ini istilah Hesty menyambati mata orang yang berkaca-kaca handak menangis, hahaha XDDD) tapi kuurungkan lalatku. Finally belakangan aku tahu nama anak Afrik ini “LUFUNO”,,,!!! “LUFUNO” kawan-kawan “LUFUNO”, imut banget deh namanya, lufuno, lufuno, lufuno,,,

Dari sini aku dapet pelajaran, pencerahan, cahaya illahi (hwuallaah.!!!) bahwa “Pentingnya Bahasa Inggris dipelajari sejak dini!!!”(Hidup Edeeept!!!XO), maksudnya supaya lo gak bodoh, mau aja dikibulin, kecil aja udah kaya beginian, gak bisa dipungkiri memang, ada dua hal yang gak aku sukai dari perkembangan dan kemajuan teknologi sekarang, “Pendewasaan Dini (konotasi)” dan “Pembodohan”, terutama soal jejaring sosial yang jadi ajang buat anak muda(ralat) anak SD nyari pacar, woy hari gini.???

Oke nantikan lagi cerita-ceritaku selanjutnya, termasuk teka-teki logika dari temenku, temen kakak sepupuku anak Om dan Tante, cucunya Kakek Nenek, tapi gak punya kakak, karna dia anak sulung yang punya adek, adek ini adeknya dari kakak sepupuku anak Om dan Tante, cucunya Kakek Nenek, tapi gak punya duit, karna dia anak nomor 2, PLAKK…!!! BAK…!!! BUK…!!! BAK…!!! JDUKKK, BRUAAKKK, BLAARRRRRrrrrr…

TU BI KONTINYUD

*.Berakhir dengan lagu Ria Irawan “REKAYASA CINTA”, jeng, jeng, jeng, teroret, teroret, teroret…

BM = BlackBerry Messenger/Banyak Mikir/Banyak Makan/Bibir Monyong, dst.
KTSP = Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan/KaTeSaPe/,,,,,,,,,,,, dst.
BTT = Back To Topic/Banyak T*i Tikus/Banyak T*i Tokek/Bulu Tek Tek/Bahu Tek Tek, dst.
OOT = Out Of Topic/Omongan Orang Tua/Oh Oh Topia/Oy Oy Tolong/Ono Opo Thoooo…???
http://facebook.com/bibi.jamu
The resurrection of the Sultanate of Banjar:
Palace of the Center for Cultural Preservation and Local Wisdom.
Prof. Helius Sjamsuddin, Ph. D, M.A.
National Historian (Expert of Banjar History)

In the last decade of the 20th century and / or the first decade of the 21st century we all witnessed the kind of "movement" the presence of tens---or maybe a hundreds kingdom / empire in Indonesia as "Nusantara Empire" which the kings/sultans gathered in a forum gathering together. Being outside is the meeting biennially in rotation in a palace Nusantara Festival (FKN).

This phenomenon can be located in a phenomenological study (from the Greek: phainomena, consciousness) with one variant of identity politics (identity politics). As the academic study of the phenomenology is a multi-disciplinary; It can reach out every related field, from the aesthetics of art, literature, dance, drama / theater, music, film, to the architecture, law, communication, biography, education, gender, psychology, ethnicity / ethnology, ecology, to the qualitative research methods, politics and religion. As one of the fields of philosophy, phenomenology great influenced on 20th-century and even into the 21st century. It is also the politics of identity hinging on a common language, dress, customs, group / class, ethnicity, nation, etc. which can be the study of the disciplines of sociology, sociology of history, historical anthropology, psychology, history, politics. As a simply, if the phenomenology trying to assess and interpret every experience of an individual / group (individual / collective memory), actions, thoughts, feelings, memories, which can still be observed and that is the ideals (ideal), so the politics of identity is trying to review and understand the identity that made ​​the difference with other groups. Phenomenology, especially hermeneutic phenomenology (and identity politics) trying to make sense of why and how to present the experience (ecountering) like that. In Indonesia is generally interpreted, inter alia, as "local knowledge" (local wisdom).

Judging from modern glasses, a kind of “movements” above considered already atavastic-obsolete. Instead of glasses in the postmodern in this era which we live now is a cultural movement with all aspects in general. He became extraordinary when "the people" of the palace, “keraton”, “dalem” as the center, protective, mainly driven by (Maecenas and the prime mover). Actually this is not strange because even before the empire (the palace) than as a center of power is also a cultural center: the palace is a representation of the entire servant region. After 66 years we all became a children of a nation of nations (NKRI), when we are all still searching for a form that does not seen a definite, real, and the fitting of a national culture which we all aspire, then we turned back into history: whether there are the residual artifacts of verbal and / or non-verbal that we all call "local knowledge". Hundreds of ethnic groups in Indonesia has hundreds of local knowledge that is stored respectively in the repertoire of local cultures. Indonesia as a multi-cultural nation-state, people began to see the other side of the same coin that called "educational differences" (diversy education), "Ethno-pedagogy" which actually comes also on the tolerance to appreciate the differences as a young nation from a nation-state.

In a like this format we see the presence of Indigenous Institutions and Kinship Sultanate of Banjar. He took formidable task of cultural Banjar preservation (culture in the broadest sense) according to the Banjarese people the wisdom should be preserved and inherited. (The word "sustainable" and "inheritance" should not be construed static but dynamic). Therefore it is very tiring discourse if the existence of such bodies pose a kind of pros and cons, much less we are "banging" sultanates revival movement in Indonesia as the national state. On my opinion I saw the rise of this Sultanate of Banjar is a metaphor --- has the symbolic value than real, of course --- and be the adhesive for Banjarese people through cultural practice with Banjarist typical.

Before the arrival of Western nations, in the archipelago there are dozens if not hundreds of kingdoms/sultanates, since the little size and a giant-sized up. Banjar is one of the great Islamic Empire and triumphed in Kalimantan. When the founder of the dynasty of Sultan Suriansyah successfully laid the foundations of his power in Kalimantan in 1520's, Banjarmasin trading boats had appeared among others in Banten in 1596. In the course of subsequent history of the villages Banjar with settlers, settlers came in the ports of the archipelago in the villages next to Bugis, Malay, Javanese, etc.. but Banjar’s identity and their islamic faith still they kept. When Western nations came--- whether it is Portuguese, Spanish, Dutch, English, French, etc. --- they are contrary to Islamic sultanate Banjarmasin. When the central government of Banjarmasin occurred intrigues, palace power struggle and one of the party requesting foreign aid, then from there the beginning of the collapse of the palace Banjarmasin. The dynasty painstakingly built by Sultan Suriansyah separated in the bunch-bunch are opposite each other. Long resistance of foreign domination that fishing in murky waters ultimately can not be dammed. The Sultanate of Banjar ended tragically and live a historical memento while the sequence-sequence descendant of Sultan Suriansyah scattered everywhere, there are still known to exist, some are missing in the historical record. This is a very valuable teaching history for all of us!
The tragic collapse of Banjar’s palace written length by the Dutch historian EB Kielstra in "De Rijk Bandjermasinche ondergang van het" provide a very valuable history teaching for the descendants of the first offspring in the first fight. The spirit of this awareness that we can read in Culture submissive to the Throne. A noble ideal that we all quote as follows:

. . . one step to strengthen the ties back the hospitality to the zuriat. . . . Starting from the first king of the Banjar Sultanate in the 15th century [16] (the Islamic era) Sultan Suriansyah until the beginning of the current generation of the 21st century.
Since the Banjar kingdom was abolished by the colonial Dutch, kinship ties became very tenuous. Between the relatives of them could not recognize for each other, indifferent and stuck in competition that does not necessary, even of they drop to each other. Khairul was awarenes that to preserve the culture, customs and traditions of the Banjar Kingdom is working with the zuriat.
Pedigree should not be the embryo that splits and individual ego battles. Unity and integrity is a value of the local wisdom of Banjar society in existence since time immemorial. It is also inherited by relatives of the royal lineage ties. The split is a colonial legacy that pollute the local moral values​​.
Great hope in the minds of Khairul Saleh that once all of the Sultanate of Banjar zuriat tight-knit to raise the dignity of family and Banjar society in the fields of culture, customs and traditions. (see pages 82-83)

Related to the above, there are two things that we can do by the Institute of Traditional and Kinship Banjar Empire, the first internal, and the second external. First, the (internal), this is a best momentum to strengthen the relationship of kinship throughout the descent of the empire, with Khairul Saleh as a mediator. Actually some of the cues that have been done by previous sultans as a form of "local wisdom" --- intentionally or by chance:
  • Sultan Sulaiman has set an example when he holds the son of Prince Amir who was exiled to Sri Lanka, Prince Mas'ud, Martapura courtiers, and even married his daughter Khadija, the sister of Sultan Adam, with the prince Mas'ud;
  • Sultan Sulaiman married Prince (Panembahan) Antasari with the Queen Antasari, the sister of Young Sultan Abdul Rakhman, who gave birth to Gusti (Panembahan) M. said;
  • Sultan Adam protected Prince Antasari in Martapura palace, even he give a terrain on Mangkauk apanage.
  • Sultan Adam married his son Raja Muda Abdul Rakhman with Antasari's sister, Queen Abdur Rakhman.
  • Hidayatullah who was crowned as Sultan by the elders Amuntai --- without the consent of the Dutch--- have been shoulder to shoulder with the Prince of Antasari in Banjar War;
  • The naming of the Martapura square with the Princess Zaleha---if the intended is Gusti Zaleha, daughter of Sultan Seman, who married Gusti M. Arsyad, son of Panembahan M. Said;
  • In the framework of the proximity of this kinship, recognition of the "emergency rule" Hidayatullah with Antasari, followed by Pegustian in Beras Kuning. If we look at the history of the(history from within), the fighters did not recognize the unilateral abolition of the Sultanate of Banjarmasin by the Netherlands in June 1860. Hidayatullah with Antasari, then Antasari with his sons together form a government Pegustian, first in the estuary Muara Teweh, then after Antasari's death, followed by his two sons, Panembahan M. Said and Sultan M. Seman in Beras Kuning, Menawing river. Pegustian is representation "replica" of sustainability palacae of Banjarmasin that abolished the colonial.
  • Who is doing the course the entire sequence of the Sultan Suriansyah are still alive these day. If it can be assumed that the Sultanate of Banjar now (2010) is a continuation of the palace of the Beras Kuning that ended in 1905, not the court which removed the Dutch in 1860, then the vacuum of Banjarmasin palace is no longer 151 years but 105 years old. Young Sultan Khairul Saleh can continue the wisdom that has been shown by the Sultan and Sultan Suleiman Adam---postscript the ancestors of Sultan Muda. This is truly local wisdom in practice! This is an ongoing narrative.

Second---symbolic as well as real-culture of the imperial throne of the new Banjar now is really also "throne for the people". Borrow classic nautical metaphor, Young King Khairul Saleh as a captain, drove a large Banawa Banjar is carrying all the people and culture ocean sailing. --- sometimes a wave of calm but can also flare up-to dealers who want to go safely prosper. Hope.


Cangkal, Tugul dan Pantang Manyarah
DMA. Suriansyah Ideham
Chairman of the Cultural Institute of Banjar South Kalimantan.

TERMS raised back batangtarandam could mean a ketugulan seriousness (solid spirit-red), to fight or to revive the beautiful cultures of the Banjar Sultanate.
I thought tarandamnya palace of culture after the dissolution of the colonial during the hundred years since the weakness of the less persistent zuriat struggling to revive.
Of course many people losses experienced after the loss of purity of the culture palace. This can be seen from the erosion of the ancestral palace of culture. A simple example, ancient times when the children saw penginangan or peludahan place. They directly bowing as a form of tribute to parents. See where the “menginang” and “peludahan” they respect it, especially at the place that is a parents.
There are some important things to me to assess the loss of the tenets of Islam are more faded, faded Banjar language and culture of the river are falling further.
“We are thankful that there are now zuriat revive the values ​​of civility palace. The struggles of Prince H. Khairul Saleh and the zuriat to revive the culture and the hospitality that we must support. He (Khairul Saleh, red) has a strong will and determination to do that. He was a cangkal, tugul and pantang manyarah.” Said Suriansyah Ideham, Datuk Mangku Peoples (DMA).

NB: Ini translateku. dapet job dari Mam Nila, walaupun hasilnya jelek,  lumayan lah selembar dapet goceng, hehehe. Translate ini di ambil dari buku "???" lupa, hahaha, rencananya buku yang nantinya ditranslate itu bakal dibawa ke Belanda. Selamat semoga prestise Kalimantan Selatan semakin harum sampai kepelosok negeri seberang, amin.