Sesosok
Fatimah Azzam
Senja
itu langit merah jambu, kerutan langit cantik dan gerimis kecil mulai
membasahi tanah kompleks pemakaman kecil di sudut kota Malang yang
dingin itu, kebisingan deru motor dan mobil yang melalui kompleks,
serta senyap dan seramnya suasana pemakaman tak membuat kekhidmatan
dua orang yang sedang melantunkan ayat suci pada tiga buah makam yang
tak terlalu besar dipojok pemakaman itu.
“Bu,
kenapa Nabi tidak diturunkan pada jaman kita sekarang ini ya?”
pertanyaan yang terlontar pada anak ingusan 12 tahun itu membuat
seketika kegiatan menulisnya berhenti, kaget, tapi disembunyikan dari
wajah lembutnya, ia memang sudah terbiasa mendapatkan opini-opini
atau pun pertanyaan aneh dari Radit.
“Lho
memangnya kenapa dengan jaman kita ini nak?” ia lantas menggendong
anak itu, Radit. Anak yang padahal dalam persepsi orang dewasa masih
dalam keceriaan, angan muluk, serta imajinasi yang masih tinggi,
masih menonton kartun kesukaan mereka lantas mengapresiasikannya
dalam bentuk aksi bersama temannya. Tapi tidak bagi Radit, menonton
TV kadang membuatnya muak, ia lebih sering membaca, dan tenggelam
dalam buku-buku yang sering diaanggapnya rumah kedua itu. Ia hanya
suka membelalak pada siaran TV yang menyiarkan acara politik, berita
universal atau universum. Tingkat intelegensi yang aneh terkadang
membuat heran guru-gurunya, bahkan kadang jengkel. Ia selalu
membombardir orang-orang disekitarnya dengan pertanyaan yang kadang
tidak sesuai dengan umur anak seusianya.
Bagi
Fatimah sendiri terkadang Radit mampu membuatnya gelagapan dan naik
pitam, kalau sudah seperti itu ia akan menyita semua buku yang
dipinjamnya dari perpustakaan atau bahkan buku yang diam-diam
dicurinya dari kamar kakak sepupunya sendiri, majalah dewasa!. “Ada
saatnya kau tidak terpaku pada buku dan teori”
“Saya
tidak mengerti kenapa jaman kita yang sekarang ini bahkan terlihat
lebih menjijikkan dari apa yang saya bayangkan pada buku cerita
“Neraka dan Surga” yang sudah saya baca kurang lebih sebanyak 17
kali itu” dengan polosnya ia mengeluarkan opini kompleksnya.
Mendengar
komentar polos yang bahkan sempat membuatnya gelagapan, ia tertawa
kecil, merdu “Gini lho nak, Negara kita ini, dibandingkan dengan
penguasa yang tamak, dunia kriminal masih bisa disebut bermoral, coba
lihat seorang maling sendal, ia masih bisa disebut orang yang baik,
ia mencuri karena kebutuhan hidup yang mencekik, kebutuhan hidup yang
membuat anak dan istrinya terjepit kelaparan dan kemiskinan,
bandingkan dengan berita yang baru saja kamu tonton kemarin, seorang
koruptor kakap lengkang bebas, keluar masuk penjara sesuka hati
mereka”. “Kamu mengerti nak?”, Ia hanya tertawa terbahak-bahak
tanda ia mengerti, ketika ia bertanya penuh antusias tentang penuh
koreng nya hukum ditanah airnya sendiri. Menonton berita hangat atau
bahkan tidak bisa dibilang hangat, panas, ketika akhir-akhir hari ini
ia sering menontoni semua stasiun TV yang meneriakkan berbagai
kecaman pedas tentang berita itu. Sekali lagi kemunafikan dan
kebusukan pemerintah dikuak dengan kejamnya oleh semua media. Sikap
Fatimah yang selalu kontra terhadap pemerintah saat itu hanya lah
sebagian rasa jijik dan bencinya pada Sukarno, terutama kelakuannya
pada perempuan.
Kini
keceriaan masa lalu yang bak perdebatan para cendikia itu bertambah
dengan hadirnya dua buah hati yang semuanya bidadari kecil mungil.
Mereka aktif bertanya tentang semua fenomena dari luar dan dalam yang
mereka lihat atau dengar dengan mata dan telinga mungil mereka. Ah,
betapa bahagianya guratan yang terlukis dari polos lembut wajahnya
semenjak terlahirnya si kembar Aisa dan Adelia hingga mereka tumbuh
dan beranjak remaja, sedang Abang mereka telah lebih dahulu mengenyam
pendidikan di bangku kuliah Oxford, Jerman dengan kantongnya sendiri.
Dan yang membuat isi rumah itu penuh dengan warna adalah antusiasme
kedua putrinya yang tak mau kalah dengan Abangnya, kalau sudah harus
seperti itu kadang meski kewalahan ia tetap menjelaskan semampunya
meski terkadang otodidak, dan Raditlah yang nantinya merincikan serta
menjelaskan spesifik kerangka pemikiran kedua adiknya itu.
Semula
pilihan hidup Fatimah yang ingin menjadi single parent, tidak
mengijinkan seorang pun membuka kamar pribadinya. Jangankan
membukanya, ia bahkan tak bergeming ketika ada beberapa orang yang
mencoba mengetuk pintu kamar itu. Hampir ia berteriak ketika tatapan
kedua mata orangtuanya menuntutnya untuk mencari pendamping hidup
yang akan melindungi dan menjaganya serta Radit kecil nantinya.
“Bu,
Pak, saya belum frigid, apa yang sekarang menjadi pilihan hidup saya
bukan semata keegoan diri saya, tapi masa depan kami lah yang ingin
saya junjung, terutama untuk Radit.” Ia mencoba mengekspresikan
pemikirannya dengan tenang dan tak berani menyinggung orangtuanya.
“Lho, Bagas kan mapan, ia juga pintar, ia juga adalah anak sahabat
dekat Bapakmu, dan yang terpenting ia mau menerima statusmu apa
adanya” bela Ibunya mendeskripsikan Bagas dimatanya.
Pertanyaan
macam seperti itu seringkali menyodok-nyodok isi perutnya, hampir
membuatnya mual. Ia berhenti menuangkan teh di cangkir ibunya. Tapi
kemudian kucuran teh itu tertuang pula disertai gumaman Fatimah yang
kurang jelas.
Suasana
hening beberapa lamanya. “Fat. . .” Bapaknya mencoba menetralisir
ketegangan yang terjadi antara Ibu dan anak itu.
“Bagaimana Bapak dan
Ibu bisa menyimpulkan kalau saya akan menikah dengan Bagas?”
“Lho Bagas kan sudah
mencoba melamarmu, dan sudah lama mengenal kamu dan Radit?”
“Ia pacarmu toh?”
“Yaaa, bisa dibilang
begitu” sahut Fatimah mencoba meredam emosinya dengan mengalihkan
aktifitasnya pada bunga anggrek bulan kesayangannya yang menggantung
di jendela ruang tamu kecil itu.
“Atau dia salah satu
pacarmu?” tatap ibunya dengan penuh rasa penasaran, menguntit.
Membuat Fatimah agak rikuh.
“Begitu juga boleh..”
“Lha kamu ini
bagaimana?”
“Ya kalau mengikuti
aturan dan pandangan masyarakat. Bagas pacarkulah, mungkin ia juga
bisa menjadi ayah yang baik untuk Radit nantinya. “Tapi. . .”
Fatimah berhenti memotong daun-daun kering anggrek itu, bergegas
duduk dengan tenang menghadapi kedua orangtuanya. Ia menyuruput teh
tanpa gula yang ia tuang sendiri dengan perlahan ”apa saya harus
menikah dengannya?” “apa saya akan dinikahkan dan mempunyai anak
dengannya” “saya sendiri tidak tahu apa saya ingin menikah
lagi..” Pernyataan yang terlontar
dari bibir mungil tipis Fatimah seakan membuat napas ibunya hampir
lenyap, riuh rendah, hampir membuatnya ternganga seperti bocah yang
sedang menonton pertunjukan sirkus dan sulap, penuh tanya.
Tapi
Ayahnya tidak heran, ia sudah terlatih untuk tak terlihat terlalu
dramatis dan emosional, mungkin seandainya Fatimah bukan seorang
perempuan dan anak semata wayangnya ia pasti akan meluapkan emosinya
mentah-mentah, sedang kalau orang yang sedang kesal menghadapinya
mungkin penginnya nabok. Pernyataan revolusioner seperti itu
acapkali ia dapatkan ketika ia menuntut Fatimah dengan aturan sosial
yang mengekangnya. Sejak kecil Fatimah memang tidak tumbuh layaknya
seorang anak gadis biasanya, kenes dan selalu salah tingkah. Ia
tumbuh tanpa ingin adanya embel-embel konvensi yang melekat dan
selalu menjadi konversasi orang-orang sekelilingnya dan selalu
meributkan masalah statusnya, ia sadar bahwa ini bukan jamannya Siti
Nurbaya.
Namun
seiring waktu berlalu ketika ia aktif kembali sebagai seorang
aktivis, dan Radit yang dinilainya sudah cukup mandiri. Ia akhirnya
kembali menerjuni “habitat”nya yang selalu menentang kebijakan
pemerintah yang selalu menitikberatkan suatu problem sosial dan
selalu tak peduli lebih dalam seperti apa hasil selanjutnya. “Tahukah
kalian? Undang-undang itu dibuat untuk dilanggar.!!!” “Peraturan
kalian wajib untuk diabaikan” “Jadi hal yang wajar kalau mereka
saling contek-menyontek” Teriaknya pada saat pemerintah mewajibkan
UAN untuk seluruh siswa di tanah air. Ia selalu ikut demonstrasi.,
dan berteriak-teriak bersama dengan rekan-rekan aktivis, anak-anak
kampusnya, atau guru-guru lainnya. Tanpa harus takut mengambil risiko
berat atas konsekuensinya sebagai seorang aktivis. Ia sendiri tidak
tahu apakah ibunya akan mengkhawatirkan keadaannya, karna sering
pulang larut malam, subuh, bahkan tidak pulang sama sekali karena
ditahan Satpol PP dan tentara.
Pada
saat itulah, ketika mandi bukan kebutuhan, pakaian lusuh bak
pengamen, wajah putih polos cantiknya harus bercampur dengan debu
serta bau jalanan. Ia bertemu dengan seorang pemuda gagah dan tampan,
Iqbal, yang sering dipanggilnya Mas ini. Tak dapat dipungkiri klimaks
cinta tumbuh diantara mereka, dan akhirnya ia mau membiarkan kamar
pribadinya dimasuki pemuda yang tiga tahun lebih muda darinya. Yang
lebih mengherankan adalah status Iqbal yang seorang Polisi. Meski tak
berjalan mulus akibat kecemburuan Radit dan keacuhan Ibunya tentang
hubungan mereka. Namun dengan kegigihan dan kedewasaan Iqbal akhirnya
Radit mau menerimanya sebagai ayahnya, wali nya kelak ia akan menikah
nanti. Ibunya pun semula juga menolak keras, ia heran, aneh, anaknya
yang seorang demonstran disunting oleh seorang Polisi? Tapi pada
akhirnya luluh juga hati Ibu Fatimah, ia tak tahan juga dengan
konvensi masyarakat yang manis dan feminin. Ayahnya tak banyak kata
dan tanya, ia sudah tahu watak keras dan keteguhan Fatimah, ia tahu
bahwa sekian 14 tahun ia menutup erat pintu kamarnya, tak mau
membagikan kunci pintu itu pada siapapun, bahkan pada ia dan istrinya
yang secara fakta darah adalah orangtua kandungnya!.
☼ ☼ ☼
“Hadi apa film barat
kesukaaanmu?”tanya ibu Sarah guru bahasa Indonesia yang sedang
mengajarkan materi ringkasan, resuman, resensi dari sebuah film.
“Tentu saja Harry
Potter bu, saya sangat suka sekali imajinasi jeniusnya J.K. Rowling
itu”1
“Lalu Mutia apa film
kesukaanmu?”
“Kalau saya suka
banget sama Twiight, Edwardnya ganteng banget
bu, andai saya jadi Bella nya” jawab Mutia sambil membayangkan
imajinasinya, disambut teriakan riuh seluruh isi kelas yang membuat
pipi Mutia yang bulat itu merah padam, malu. 2
“Nah, Califa apa film
kesukaan mu nak?” Ibu Sarah mencoba menenangkan suasana.
“Saya suka banget sama
film-film Korea bu, pemainnya ganteng-ganteng, cantik-cantik, dan
imut-imut, ceritanya romantis banget bu, sampai-sampai bikin saya
nangis?”
“Huuuuuuuu.. .
Lebaaaaaaaaayy…” teriak seluruh siswa kelas itu mengejeki Califa.
Kali ini wajah Califa
lebih merah daripada wajah Mutia. Ibu Sarah sendiri hampir tertawa
lepas, tapi ia mengurungkannya dan hanya tersenyum saja.
“Sudah, sudah, tidak
apa, Califa kamu ini bagaimana? Ibu kan menanyakan tentang film
favorit kamu dari film-film barat? Kok malah dijawabnya film Korea?”
“Kenapa nggak film
India sekalian Fa?” Teriak Irfan sambil mengejek Califa
habis-habisan.
Tentu saja celetukkan itu
disambut gelak tawa seluruh isi kelas, tidak terkecuali guru mereka
sendiri.
“Ih apaan sih, dasar
cowok nyinyir” sahut Califa tidak terima.
“Yaa sudaaah, sudaaah”
“Delia, apa film
kesukaan kamu?”
“Delia…?”
Adelia yang sejak tadi
tidak terlalu memperhatikan konversasi ribut itu terkejut, ia sedang
tenggelam dalam buku kontroversialnya ilmuwan kondang Stephen Hawking
yang tengah diributkan kalangan pemuka agama dan ilmuwan dunia, yang
menyatakan bahwa dunia tercipta tanpa campur tangan tuhan The Grand
Design .3
“Eh, ya bu?” jawab
Adelia gelagapan.
“Apa film barat
kesukaanmu sayang?” tanya Bu Sarah mengulanginya.
“Saya suka film Silent
Hill yang ditulis oleh Roger Avary”4
“Lho itu kan film
horor, ih serem banget deh, kamu kok bisa nonton film yang kaya
gituan?” sergah Novi sambil bergidik.
“Lho kalian takut ya?”
“Yang ku lihat dalam film itu bukan hantunya lah, darah, ataupun
monster dan penyihir itu. tapi jalan cerita yang sangat menarik,
tentang seorang anak yang dijadikan tumbal untuk menebus dosa seluruh
warga kota itu, ia dianggap sumber dosa, karena tidak memiliki
seorang ayah. Ritual dan ajaran agama yang sesat menarik untuk
diperhatikan, serta perjuangan susah payah yang dilakukan oleh Rose
untuk menyelamatkan Sharon yang jelas-jelas notabene bukan anak
kandungnya, apalagi disitu ada kata-kata favoritku, “Mother is God
in the eyes of a child””
Suasana
menjadi hening sesaat, mereka seperti tersihir dengan opini Adelia
tentang film favoritnya.
“Bagus, itu berarti
kamu sudah bisa menangkap isi dari film itu Adelia” Bu Sarah
membuka keheningan disambut dengan tepuk tangan seluruh isi kelas
itu.
“Tapi Bu, kenapa harus
film barat yang harus kita resensi?” “Kenapa tidak film-film
tanah air kita sendiri?” “Film yang bagusnya cuma dapat dihitung,
sedang film kacangannya bak popcorn yang kita makan, tak terhitung,
jelek, tak bermutu tapi malah mendominasi” “sebenarnya yang bodoh
dan dibodohi itu siapa?” “Produser filmnya mengatakan kalau film
itu dibuat berdasarkan permintaan pasar atau minat masyarakat.”
____________
- Harry Potter adalah tokoh utama dalam novel fiksi yang ditulis oleh J. K. Rowling dalam novel yang berjudul sama. Bercerita tentang latar belakang kisah yang kebanyakan berada di Sekolah Sihir Hogwarts dan berpusat pada pertarungan Harry Potter melawan penyihir jahat Lord Voldemort, yang menggunakan Ilmu Hitam untuk membunuh orang tua Harry. Ada tujuh seri buku yang ditulis oleh Rowling ini.
- Twlight merupakan judul film yang diambil dari novel tetralogi romansa hasil imajinasi Stephenie Meyer, Stephenie terinspirasi oleh mimpinya tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang vampir. Bercerita tentang perubahan hidup drastis Isabella Marie Swan semenjak ia tinggal bersama Ayahnya dan pindah sekolah di SMA di kota kecil Forks, Washington dan disekolah itulah ia bertemu dengan Edward Cullen, vampir tampan yang sudah mengetahui masa depannya semenjak Bella datang ke kota itu.
- The Grand Design adalah buku penuh kontroversial yang ditulis oleh Stephen Hawking, ilmuwan kondang yang menemukan teori Lubang Hitam “Black Hole”, dalam buku The Grand Design itu ia mengemukakan teori bahwa bumi tercipta tanpa campur tangan Tuhan, menurutnya bumi tercipta melalui hukum gravitasi.
- Silent Hill adalah sebuah film yang ditulis oleh Roger Avary. Bercerita tentang perjuangan keras Rose Da Silva untuk memecahkan misteri kota berhantu Silent Hilll yang terbakar akibat pemahaman sesat tentang Tuhan, warga kota itu menghukum mati seorang gadis yang tidak mempunyai Ayah dengan membakarnya. Rose berniat mengikuti mimpi-mimpi yang sering menghantui Sharon Da Silva anak angkatnya dan mimpi itu selalu tergambar dalam sebuah lukisan yang digambar oleh Sharon. Di kota itulah akhirnya Rose terjebak dengan Sharon dan seorang polisi wanita Cybil yang mengejar mereka.
☼ ☼ ☼
“Ya
Allah! ada apa dengan kalian Del, Isa? kenapa malah penuh cakaran
kucing seperti ini?” “Ini lagi, kenapa wajahmu lebam biru seperti
ini Sa?” tuntut Fatimah sambil mencoba mengambilkan air hangat dan
lap untuk membersihkan wajah Adelia dan Aisa.
Rentetan mitraliur
darinya terus saja berlanjut ketika Fatimah mengetahui anaknya
berkelahi karna masalah sepele. Ia memarahi mereka dengan berbagai
kritik nasihat satu jam lamanya.
“Bu gimana kami tidak
berkelahi kalau saja mulut Mutia, Califa dan Arif itu ditata”
“Entah apa maksudnya ia
berbicara bagai tak punya Ibu” Isa mencoba membela kakaknya.
“Lho memangnya apa yang
mereka bicarakan, sampai-sampai kalian seperti badut aneh seperti
itu?” Abangnya mulai mengejeki mereka satu persatu.
“Hush, Radit” Tegur
Fatimah
“Masa Arif bilang
begini bu , “Ibu mu seksi ya,?”, eh Mutia malah menimpali, “Iya
berapa sih ukuran dada Ibumu? Eh si Califa malah nyeleneh lagi “Dada
tepos mama ku saja tidak sebesar mama mu”…………….
“Kalau ia bicara pada
sebatas sampai seksi saja sih, kami mungkin tidak senewen bu, tapi
itu loh, omongan mereka seperti orang tak berpendidikan, seperti ndak
punya Ibu”
“Gimana
ini Mas? Saya bingung, bukannya saya marah dikatain seperti itu, tapi
saya tidak tahu cara nya menetralkan sifat beringasan mereka itu”
“Entah persepsi stereotype seperti itu benar adanya, kadang
sifat mereka mencerminkan sikap saya sewaktu kecil dulu, tapi mereka
mampu mengeksplorasinya lebih dari pada saya” “mereka tak ingin
ada pagar batas, meski saya tahu aktifitas mereka selalu positif dan
normatif”
“Lha wajar lah Dek,
itu makanya kan ada agama, kebebasan manusia memang tak ada batas
jika sudah akal tak berfungsi dan agama tak jalan, apa bedanya dengan
binatang” “Mas yakin itu karena mereka menganggapmu lebih dari
sekedar idola”.
“Adelia,
Aisa coba bantu ibu menyiapkan meja makan nak!” Panggilan Fatimah
yang kedua kalinya dibiarkan kedua gadis kecil itu mengisi seluruh
ruangan. Tapi akhirnya mereka datang juga membuntuti Ibu mereka
dibelakang sambil menenteng piring dan gelas bersih. “Lho muka
kalian kok seperti cucian belum disetrika, lipat tujuh seperti itu,
masih belum puas dengan penjelasan Ibu sore tadi ya?”. Tak
mendapat jawaban akhirnya Fatimah sendiri yang mencoba menjawabnya
“Baiklah nanti sehabis kita makan kita bahas dengan wajah yang
tidak seperti itu lagi, Ibu tidak mau kalian menghadapi makanan
dengan wajah seperti itu, ok?”
“Iyaa…”
sahut kedua anak gadis kembar identik yang menggemaskan itu. Akhirnya
Fatimah dengan sabar mencoba menjelaskan dan mengajarkan mereka
tentang bagaimana cara mengelola emosi dengan kesabaran ia mencoba
memotivasi apa yang telah ia dapatkan dari buku Ahmad Hadi
“Dahsyatnya Sabar” “Nanti gantian bacanya, jangan sampai sobek
lagi” Fatimah mengingatkan .5
________________
5 Dahsyatnya
Sabar adalah sebuah
buku yang ditulis oleh Ahmad
Hadi Yasin yang
menjelaskan tentang defenisi rinci sabar, berbagai cara
mengaplikasikannya, serta berbagai manfaat/hikmah sabar berdasarkan
Al-Qur’an yang tertuang menjadi sebuah buku islami.
☼ ☼ ☼
“Alah
omong kayak entut…” komentar Fatimah sarkastik. Ia mulai
sibuk mengganti channel TV dari satu kelainnya. “Lho kenapa
sih Bu kan bagus kalau sekarang ada yang menjanjikan yang seperti
itu, mungkin saja ada kesejahteraan rakyat miskin nantinya” tuntut
Isa yang protes dengan sikap ibunya.
“Alah, Ibu itu paling
ndak suka kalau ada orang yang koar-koar soal bagusnya
kebijakan-kebijakan pemerintah yang bla bla bla, ini itu, ba bi bu”
“Ibu itu bukan main keselnya sama DPR-DPR yang sok bicara
tinggi-tinggi soal undang-undang yang berulang-ulang didebatin, coba
tanyakan saja Ayahmu.!”
Iqbal yang dari tadi
senyum-senyum mendengar istrinya ngedumel
akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat tatapan anak-anak nya yang
setengah menuntut itu.
“Kalian
kan tahu Undang-Undang bukan main indahnya pada saat dibicarakan,
tapi kenyataannya tidak bisa diterapkan sampai kebawah kan?”
“Pemerintah
itu loh, sukanya yang praktis, ndak mau ribet, dan disusahkan,
yang njelimet-njelimet
itu tidak mau” Fatimah mencoba menyela.
“Dibawah
ya “adat jalanan” lah yang tetap berlaku” Radit yang baru
muncul sehabis pulang dari kantor mulai menimpali percakapan menarik
itu.
“Bagaimana
dengan donaturnya Dit?” tanya Fatimah ketika tahu anaknya pulang.
“Ah,
bu repotnya ngurusin permintaan yang bikin
bingung seperti itu, masa saya harus menandatangani kuitansi senilai
10 juta seperti itu?”
“Lha
bagus dong, kenapa tidak kamu tanda tangani?”
“Wong
saya cuman dapat 7 juta, ya saya
tolak.!”
“Astaghfirullahalazim”
seluruh isi rumah seketika langsung terpusat pada Radit. Radit yang
mulai menjalankan yayasan dari Ibu nya seringkali harus menghadapi
realitas seperti itu. Menjalankan yayasan untuk anak-anak jalanan
ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Selalu saja banyak orang
yang memandang sebelah mata, dan menganggap anak-anak jalanan adalah
sumber masalah, sampah masyarakat yang sudah sepantasnya mendapatkan
perlakuan seperti itu. Fatimah sendiri sadar dengan hal itu, oleh
sebab itulah ia bahkan rela menghabiskan separuh hartanya untuk
mendanai yayasan kecil itu dari kantongnya sendiri.
Hampir
17 tahun sudah ia memperjuangkan nasib
anak-anak jalanan, meneriakkan berbagai kecaman-kecaman pedas
terhadap pemerintah yang tak begitu peduli tentang problem sosial
ini, padahal anak-anak seperti itu adalah anak-anak yang bahkan mampu
membuat dunia melihat mereka, yang membedakan mereka hanyalah status
sosial, ekonomi dan keberadaan mereka saja. Tapi jerih payah itu
akhirnya membuahkan hasil yang lumayan memuaskan. Di mata Fatimah
setidaknya yayasan itu sudah lumayan besar dan sudah bisa berdiri
tanpa harus mendapat koordinir darinya. Kini yayasan itu telah
dijalankan oleh ketiga pelipur laranya, Radit dan si kembar Aisa dan
Adelia. Kelumpuhan pada kakinya serta umur yang begitu renta akhirnya
melumpuhkan aktivitas luarnya.
“Apa
benar ini keluarga dari Ibu Fatimah Azzam”
“Ya
benar, saya putrinya, ini dari siapa?”
“Ibu
anda telah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, mobil yang
dikendarai oleh seorang wanita muda dan seorang laki-laki yang berada
disampingnya juga meninggal akibat pendarahan yang parah. Apa mereka
Ayah dan saudara anda?”
“Ini
siapa? Tolong jangan mengada-ada, Ibu dan Ayah saya serta adik saya
memang akan pergi ke Bandara Sukarno-Hatta untuk mengantar
adik saya”
“Kami
dari kepolisian Bu. Tolong Ibu tenangkan pikiran anda dulu, lebih
baik anda datang kesini dan mengonfirmasi apa benar ini jenazah kedua
orang tua dan adik anda, tolong datang ke Rumah Sakit Cipta Sari
Kusuma....”
“Mas
Ief!!” “Mas Ief....!!”
Pekikan dan
teriakkan itu langsung membahana memenuhi rumah kecil itu.
“Iyaa!!
Ada apa Dek,
kenapa ribut-ribut”
“Telepon
Bang Radit Mas!!” “cepat!!”
“Iya,
ada apa kenapa dulu Dek??”
“Aisa
Mas. . Ibu. . . Bapak. . .” “Mereka semua tidak jadi mengantar
Aisa ke Amerika”
“Lho?!
Lantas kenapa kamu jadi menangis seperti ini, Ibu kenapa Dek??
Bapak dan Aisa kenapa?? Mereka semua kenapa???!”
Seketika
pandangan Adelia menjadi gelap pekat, yang ia tahu semua isi rumah
menjadi gaduh dan ribut, Radit dan mbak Tiara, Iyem, mang Topan dan
suaminya Syarief.
Tanah Bumbu,
14 Desember 2010
SELAMAT
HARI IBU
- Cerpen ini saya gores untuk Ibunda tercinta saya, Hj. Nor Idawati.
Cerpen
ini hanya karangan fiktif saya, maaf apabila ada kesamaan nama tokoh,
tempat ataupun waktu...☺
Ibu
Ibu
merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir
manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu
adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dikala lara, impian kita
dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
Alam
semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi
yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi
adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan
membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus
memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu
adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.
Penuh cinta dan kedamaian.
~ Khalil
Gibran
Tidak ada komentar:
Posting Komentar