Rabu, 16 Mei 2012


Sesosok Fatimah Azzam

Senja itu langit merah jambu, kerutan langit cantik dan gerimis kecil mulai membasahi tanah kompleks pemakaman kecil di sudut kota Malang yang dingin itu, kebisingan deru motor dan mobil yang melalui kompleks, serta senyap dan seramnya suasana pemakaman tak membuat kekhidmatan dua orang yang sedang melantunkan ayat suci pada tiga buah makam yang tak terlalu besar dipojok pemakaman itu.
“Bu, kenapa Nabi tidak diturunkan pada jaman kita sekarang ini ya?” pertanyaan yang terlontar pada anak ingusan 12 tahun itu membuat seketika kegiatan menulisnya berhenti, kaget, tapi disembunyikan dari wajah lembutnya, ia memang sudah terbiasa mendapatkan opini-opini atau pun pertanyaan aneh dari Radit.
“Lho memangnya kenapa dengan jaman kita ini nak?” ia lantas menggendong anak itu, Radit. Anak yang padahal dalam persepsi orang dewasa masih dalam keceriaan, angan muluk, serta imajinasi yang masih tinggi, masih menonton kartun kesukaan mereka lantas mengapresiasikannya dalam bentuk aksi bersama temannya. Tapi tidak bagi Radit, menonton TV kadang membuatnya muak, ia lebih sering membaca, dan tenggelam dalam buku-buku yang sering diaanggapnya rumah kedua itu. Ia hanya suka membelalak pada siaran TV yang menyiarkan acara politik, berita universal atau universum. Tingkat intelegensi yang aneh terkadang membuat heran guru-gurunya, bahkan kadang jengkel. Ia selalu membombardir orang-orang disekitarnya dengan pertanyaan yang kadang tidak sesuai dengan umur anak seusianya.
Bagi Fatimah sendiri terkadang Radit mampu membuatnya gelagapan dan naik pitam, kalau sudah seperti itu ia akan menyita semua buku yang dipinjamnya dari perpustakaan atau bahkan buku yang diam-diam dicurinya dari kamar kakak sepupunya sendiri, majalah dewasa!. “Ada saatnya kau tidak terpaku pada buku dan teori”
“Saya tidak mengerti kenapa jaman kita yang sekarang ini bahkan terlihat lebih menjijikkan dari apa yang saya bayangkan pada buku cerita “Neraka dan Surga” yang sudah saya baca kurang lebih sebanyak 17 kali itu” dengan polosnya ia mengeluarkan opini kompleksnya.
Mendengar komentar polos yang bahkan sempat membuatnya gelagapan, ia tertawa kecil, merdu “Gini lho nak, Negara kita ini, dibandingkan dengan penguasa yang tamak, dunia kriminal masih bisa disebut bermoral, coba lihat seorang maling sendal, ia masih bisa disebut orang yang baik, ia mencuri karena kebutuhan hidup yang mencekik, kebutuhan hidup yang membuat anak dan istrinya terjepit kelaparan dan kemiskinan, bandingkan dengan berita yang baru saja kamu tonton kemarin, seorang koruptor kakap lengkang bebas, keluar masuk penjara sesuka hati mereka”. “Kamu mengerti nak?”, Ia hanya tertawa terbahak-bahak tanda ia mengerti, ketika ia bertanya penuh antusias tentang penuh koreng nya hukum ditanah airnya sendiri. Menonton berita hangat atau bahkan tidak bisa dibilang hangat, panas, ketika akhir-akhir hari ini ia sering menontoni semua stasiun TV yang meneriakkan berbagai kecaman pedas tentang berita itu. Sekali lagi kemunafikan dan kebusukan pemerintah dikuak dengan kejamnya oleh semua media. Sikap Fatimah yang selalu kontra terhadap pemerintah saat itu hanya lah sebagian rasa jijik dan bencinya pada Sukarno, terutama kelakuannya pada perempuan.
Kini keceriaan masa lalu yang bak perdebatan para cendikia itu bertambah dengan hadirnya dua buah hati yang semuanya bidadari kecil mungil. Mereka aktif bertanya tentang semua fenomena dari luar dan dalam yang mereka lihat atau dengar dengan mata dan telinga mungil mereka. Ah, betapa bahagianya guratan yang terlukis dari polos lembut wajahnya semenjak terlahirnya si kembar Aisa dan Adelia hingga mereka tumbuh dan beranjak remaja, sedang Abang mereka telah lebih dahulu mengenyam pendidikan di bangku kuliah Oxford, Jerman dengan kantongnya sendiri. Dan yang membuat isi rumah itu penuh dengan warna adalah antusiasme kedua putrinya yang tak mau kalah dengan Abangnya, kalau sudah harus seperti itu kadang meski kewalahan ia tetap menjelaskan semampunya meski terkadang otodidak, dan Raditlah yang nantinya merincikan serta menjelaskan spesifik kerangka pemikiran kedua adiknya itu.
Semula pilihan hidup Fatimah yang ingin menjadi single parent, tidak mengijinkan seorang pun membuka kamar pribadinya. Jangankan membukanya, ia bahkan tak bergeming ketika ada beberapa orang yang mencoba mengetuk pintu kamar itu. Hampir ia berteriak ketika tatapan kedua mata orangtuanya menuntutnya untuk mencari pendamping hidup yang akan melindungi dan menjaganya serta Radit kecil nantinya.
“Bu, Pak, saya belum frigid, apa yang sekarang menjadi pilihan hidup saya bukan semata keegoan diri saya, tapi masa depan kami lah yang ingin saya junjung, terutama untuk Radit.” Ia mencoba mengekspresikan pemikirannya dengan tenang dan tak berani menyinggung orangtuanya. “Lho, Bagas kan mapan, ia juga pintar, ia juga adalah anak sahabat dekat Bapakmu, dan yang terpenting ia mau menerima statusmu apa adanya” bela Ibunya mendeskripsikan Bagas dimatanya.
Pertanyaan macam seperti itu seringkali menyodok-nyodok isi perutnya, hampir membuatnya mual. Ia berhenti menuangkan teh di cangkir ibunya. Tapi kemudian kucuran teh itu tertuang pula disertai gumaman Fatimah yang kurang jelas.
Suasana hening beberapa lamanya. “Fat. . .” Bapaknya mencoba menetralisir ketegangan yang terjadi antara Ibu dan anak itu.
“Bagaimana Bapak dan Ibu bisa menyimpulkan kalau saya akan menikah dengan Bagas?”
“Lho Bagas kan sudah mencoba melamarmu, dan sudah lama mengenal kamu dan Radit?”
“Ia pacarmu toh?”
“Yaaa, bisa dibilang begitu” sahut Fatimah mencoba meredam emosinya dengan mengalihkan aktifitasnya pada bunga anggrek bulan kesayangannya yang menggantung di jendela ruang tamu kecil itu.
“Atau dia salah satu pacarmu?” tatap ibunya dengan penuh rasa penasaran, menguntit. Membuat Fatimah agak rikuh.
“Begitu juga boleh..”
“Lha kamu ini bagaimana?”
“Ya kalau mengikuti aturan dan pandangan masyarakat. Bagas pacarkulah, mungkin ia juga bisa menjadi ayah yang baik untuk Radit nantinya. “Tapi. . .” Fatimah berhenti memotong daun-daun kering anggrek itu, bergegas duduk dengan tenang menghadapi kedua orangtuanya. Ia menyuruput teh tanpa gula yang ia tuang sendiri dengan perlahan ”apa saya harus menikah dengannya?” “apa saya akan dinikahkan dan mempunyai anak dengannya” “saya sendiri tidak tahu apa saya ingin menikah lagi..” Pernyataan yang terlontar dari bibir mungil tipis Fatimah seakan membuat napas ibunya hampir lenyap, riuh rendah, hampir membuatnya ternganga seperti bocah yang sedang menonton pertunjukan sirkus dan sulap, penuh tanya.
Tapi Ayahnya tidak heran, ia sudah terlatih untuk tak terlihat terlalu dramatis dan emosional, mungkin seandainya Fatimah bukan seorang perempuan dan anak semata wayangnya ia pasti akan meluapkan emosinya mentah-mentah, sedang kalau orang yang sedang kesal menghadapinya mungkin penginnya nabok. Pernyataan revolusioner seperti itu acapkali ia dapatkan ketika ia menuntut Fatimah dengan aturan sosial yang mengekangnya. Sejak kecil Fatimah memang tidak tumbuh layaknya seorang anak gadis biasanya, kenes dan selalu salah tingkah. Ia tumbuh tanpa ingin adanya embel-embel konvensi yang melekat dan selalu menjadi konversasi orang-orang sekelilingnya dan selalu meributkan masalah statusnya, ia sadar bahwa ini bukan jamannya Siti Nurbaya.
Namun seiring waktu berlalu ketika ia aktif kembali sebagai seorang aktivis, dan Radit yang dinilainya sudah cukup mandiri. Ia akhirnya kembali menerjuni “habitat”nya yang selalu menentang kebijakan pemerintah yang selalu menitikberatkan suatu problem sosial dan selalu tak peduli lebih dalam seperti apa hasil selanjutnya. “Tahukah kalian? Undang-undang itu dibuat untuk dilanggar.!!!” “Peraturan kalian wajib untuk diabaikan” “Jadi hal yang wajar kalau mereka saling contek-menyontek” Teriaknya pada saat pemerintah mewajibkan UAN untuk seluruh siswa di tanah air. Ia selalu ikut demonstrasi., dan berteriak-teriak bersama dengan rekan-rekan aktivis, anak-anak kampusnya, atau guru-guru lainnya. Tanpa harus takut mengambil risiko berat atas konsekuensinya sebagai seorang aktivis. Ia sendiri tidak tahu apakah ibunya akan mengkhawatirkan keadaannya, karna sering pulang larut malam, subuh, bahkan tidak pulang sama sekali karena ditahan Satpol PP dan tentara.
Pada saat itulah, ketika mandi bukan kebutuhan, pakaian lusuh bak pengamen, wajah putih polos cantiknya harus bercampur dengan debu serta bau jalanan. Ia bertemu dengan seorang pemuda gagah dan tampan, Iqbal, yang sering dipanggilnya Mas ini. Tak dapat dipungkiri klimaks cinta tumbuh diantara mereka, dan akhirnya ia mau membiarkan kamar pribadinya dimasuki pemuda yang tiga tahun lebih muda darinya. Yang lebih mengherankan adalah status Iqbal yang seorang Polisi. Meski tak berjalan mulus akibat kecemburuan Radit dan keacuhan Ibunya tentang hubungan mereka. Namun dengan kegigihan dan kedewasaan Iqbal akhirnya Radit mau menerimanya sebagai ayahnya, wali nya kelak ia akan menikah nanti. Ibunya pun semula juga menolak keras, ia heran, aneh, anaknya yang seorang demonstran disunting oleh seorang Polisi? Tapi pada akhirnya luluh juga hati Ibu Fatimah, ia tak tahan juga dengan konvensi masyarakat yang manis dan feminin. Ayahnya tak banyak kata dan tanya, ia sudah tahu watak keras dan keteguhan Fatimah, ia tahu bahwa sekian 14 tahun ia menutup erat pintu kamarnya, tak mau membagikan kunci pintu itu pada siapapun, bahkan pada ia dan istrinya yang secara fakta darah adalah orangtua kandungnya!.

☼ ☼ ☼

“Hadi apa film barat kesukaaanmu?”tanya ibu Sarah guru bahasa Indonesia yang sedang mengajarkan materi ringkasan, resuman, resensi dari sebuah film.
“Tentu saja Harry Potter bu, saya sangat suka sekali imajinasi jeniusnya J.K. Rowling itu”1
“Lalu Mutia apa film kesukaanmu?”
“Kalau saya suka banget sama Twiight, Edwardnya ganteng banget bu, andai saya jadi Bella nya” jawab Mutia sambil membayangkan imajinasinya, disambut teriakan riuh seluruh isi kelas yang membuat pipi Mutia yang bulat itu merah padam, malu. 2
“Nah, Califa apa film kesukaan mu nak?” Ibu Sarah mencoba menenangkan suasana.
“Saya suka banget sama film-film Korea bu, pemainnya ganteng-ganteng, cantik-cantik, dan imut-imut, ceritanya romantis banget bu, sampai-sampai bikin saya nangis?”
“Huuuuuuuu.. . Lebaaaaaaaaayy…” teriak seluruh siswa kelas itu mengejeki Califa.
Kali ini wajah Califa lebih merah daripada wajah Mutia. Ibu Sarah sendiri hampir tertawa lepas, tapi ia mengurungkannya dan hanya tersenyum saja.
“Sudah, sudah, tidak apa, Califa kamu ini bagaimana? Ibu kan menanyakan tentang film favorit kamu dari film-film barat? Kok malah dijawabnya film Korea?”
“Kenapa nggak film India sekalian Fa?” Teriak Irfan sambil mengejek Califa habis-habisan.
Tentu saja celetukkan itu disambut gelak tawa seluruh isi kelas, tidak terkecuali guru mereka sendiri.
“Ih apaan sih, dasar cowok nyinyir” sahut Califa tidak terima.
“Yaa sudaaah, sudaaah”
“Delia, apa film kesukaan kamu?”
“Delia…?”
Adelia yang sejak tadi tidak terlalu memperhatikan konversasi ribut itu terkejut, ia sedang tenggelam dalam buku kontroversialnya ilmuwan kondang Stephen Hawking yang tengah diributkan kalangan pemuka agama dan ilmuwan dunia, yang menyatakan bahwa dunia tercipta tanpa campur tangan tuhan The Grand Design .3
“Eh, ya bu?” jawab Adelia gelagapan.
“Apa film barat kesukaanmu sayang?” tanya Bu Sarah mengulanginya.
“Saya suka film Silent Hill yang ditulis oleh Roger Avary”4
“Lho itu kan film horor, ih serem banget deh, kamu kok bisa nonton film yang kaya gituan?” sergah Novi sambil bergidik.
“Lho kalian takut ya?” “Yang ku lihat dalam film itu bukan hantunya lah, darah, ataupun monster dan penyihir itu. tapi jalan cerita yang sangat menarik, tentang seorang anak yang dijadikan tumbal untuk menebus dosa seluruh warga kota itu, ia dianggap sumber dosa, karena tidak memiliki seorang ayah. Ritual dan ajaran agama yang sesat menarik untuk diperhatikan, serta perjuangan susah payah yang dilakukan oleh Rose untuk menyelamatkan Sharon yang jelas-jelas notabene bukan anak kandungnya, apalagi disitu ada kata-kata favoritku, “Mother is God in the eyes of a child””
Suasana menjadi hening sesaat, mereka seperti tersihir dengan opini Adelia tentang film favoritnya.
“Bagus, itu berarti kamu sudah bisa menangkap isi dari film itu Adelia” Bu Sarah membuka keheningan disambut dengan tepuk tangan seluruh isi kelas itu.
“Tapi Bu, kenapa harus film barat yang harus kita resensi?” “Kenapa tidak film-film tanah air kita sendiri?” “Film yang bagusnya cuma dapat dihitung, sedang film kacangannya bak popcorn yang kita makan, tak terhitung, jelek, tak bermutu tapi malah mendominasi” “sebenarnya yang bodoh dan dibodohi itu siapa?” “Produser filmnya mengatakan kalau film itu dibuat berdasarkan permintaan pasar atau minat masyarakat.”
____________
  1. Harry Potter adalah tokoh utama dalam novel fiksi yang ditulis oleh J. K. Rowling dalam novel yang berjudul sama. Bercerita tentang latar belakang kisah yang kebanyakan berada di Sekolah Sihir Hogwarts dan berpusat pada pertarungan Harry Potter melawan penyihir jahat Lord Voldemort, yang menggunakan Ilmu Hitam untuk membunuh orang tua Harry. Ada tujuh seri buku yang ditulis oleh Rowling ini.
  2. Twlight merupakan judul film yang diambil dari novel tetralogi romansa hasil imajinasi Stephenie Meyer, Stephenie terinspirasi oleh mimpinya tentang seorang gadis yang jatuh cinta pada seorang vampir. Bercerita tentang perubahan hidup drastis Isabella Marie Swan semenjak ia tinggal bersama Ayahnya dan pindah sekolah di SMA di kota kecil Forks, Washington dan disekolah itulah ia bertemu dengan Edward Cullen, vampir tampan yang sudah mengetahui masa depannya semenjak Bella datang ke kota itu.
  3. The Grand Design adalah buku penuh kontroversial yang ditulis oleh Stephen Hawking, ilmuwan kondang yang menemukan teori Lubang Hitam “Black Hole”, dalam buku The Grand Design itu ia mengemukakan teori bahwa bumi tercipta tanpa campur tangan Tuhan, menurutnya bumi tercipta melalui hukum gravitasi.
  4. Silent Hill adalah sebuah film yang ditulis oleh Roger Avary. Bercerita tentang perjuangan keras Rose Da Silva untuk memecahkan misteri kota berhantu Silent Hilll yang terbakar akibat pemahaman sesat tentang Tuhan, warga kota itu menghukum mati seorang gadis yang tidak mempunyai Ayah dengan membakarnya. Rose berniat mengikuti mimpi-mimpi yang sering menghantui Sharon Da Silva anak angkatnya dan mimpi itu selalu tergambar dalam sebuah lukisan yang digambar oleh Sharon. Di kota itulah akhirnya Rose terjebak dengan Sharon dan seorang polisi wanita Cybil yang mengejar mereka.

☼ ☼ ☼

“Ya Allah! ada apa dengan kalian Del, Isa? kenapa malah penuh cakaran kucing seperti ini?” “Ini lagi, kenapa wajahmu lebam biru seperti ini Sa?” tuntut Fatimah sambil mencoba mengambilkan air hangat dan lap untuk membersihkan wajah Adelia dan Aisa.
Rentetan mitraliur darinya terus saja berlanjut ketika Fatimah mengetahui anaknya berkelahi karna masalah sepele. Ia memarahi mereka dengan berbagai kritik nasihat satu jam lamanya.
“Bu gimana kami tidak berkelahi kalau saja mulut Mutia, Califa dan Arif itu ditata”
“Entah apa maksudnya ia berbicara bagai tak punya Ibu” Isa mencoba membela kakaknya.
“Lho memangnya apa yang mereka bicarakan, sampai-sampai kalian seperti badut aneh seperti itu?” Abangnya mulai mengejeki mereka satu persatu.
“Hush, Radit” Tegur Fatimah
“Masa Arif bilang begini bu , “Ibu mu seksi ya,?”, eh Mutia malah menimpali, “Iya berapa sih ukuran dada Ibumu? Eh si Califa malah nyeleneh lagi “Dada tepos mama ku saja tidak sebesar mama mu”…………….
“Kalau ia bicara pada sebatas sampai seksi saja sih, kami mungkin tidak senewen bu, tapi itu loh, omongan mereka seperti orang tak berpendidikan, seperti ndak punya Ibu”
“Gimana ini Mas? Saya bingung, bukannya saya marah dikatain seperti itu, tapi saya tidak tahu cara nya menetralkan sifat beringasan mereka itu” “Entah persepsi stereotype seperti itu benar adanya, kadang sifat mereka mencerminkan sikap saya sewaktu kecil dulu, tapi mereka mampu mengeksplorasinya lebih dari pada saya” “mereka tak ingin ada pagar batas, meski saya tahu aktifitas mereka selalu positif dan normatif”
“Lha wajar lah Dek, itu makanya kan ada agama, kebebasan manusia memang tak ada batas jika sudah akal tak berfungsi dan agama tak jalan, apa bedanya dengan binatang” “Mas yakin itu karena mereka menganggapmu lebih dari sekedar idola”.
“Adelia, Aisa coba bantu ibu menyiapkan meja makan nak!” Panggilan Fatimah yang kedua kalinya dibiarkan kedua gadis kecil itu mengisi seluruh ruangan. Tapi akhirnya mereka datang juga membuntuti Ibu mereka dibelakang sambil menenteng piring dan gelas bersih. “Lho muka kalian kok seperti cucian belum disetrika, lipat tujuh seperti itu, masih belum puas dengan penjelasan Ibu sore tadi ya?”. Tak mendapat jawaban akhirnya Fatimah sendiri yang mencoba menjawabnya “Baiklah nanti sehabis kita makan kita bahas dengan wajah yang tidak seperti itu lagi, Ibu tidak mau kalian menghadapi makanan dengan wajah seperti itu, ok?”
“Iyaa…” sahut kedua anak gadis kembar identik yang menggemaskan itu. Akhirnya Fatimah dengan sabar mencoba menjelaskan dan mengajarkan mereka tentang bagaimana cara mengelola emosi dengan kesabaran ia mencoba memotivasi apa yang telah ia dapatkan dari buku Ahmad Hadi “Dahsyatnya Sabar” “Nanti gantian bacanya, jangan sampai sobek lagi” Fatimah mengingatkan .5
________________
5 Dahsyatnya Sabar adalah sebuah buku yang ditulis oleh Ahmad Hadi Yasin yang menjelaskan tentang defenisi rinci sabar, berbagai cara mengaplikasikannya, serta berbagai manfaat/hikmah sabar berdasarkan Al-Qur’an yang tertuang menjadi sebuah buku islami.

☼ ☼ ☼

“Alah omong kayak entut…” komentar Fatimah sarkastik. Ia mulai sibuk mengganti channel TV dari satu kelainnya. “Lho kenapa sih Bu kan bagus kalau sekarang ada yang menjanjikan yang seperti itu, mungkin saja ada kesejahteraan rakyat miskin nantinya” tuntut Isa yang protes dengan sikap ibunya.
“Alah, Ibu itu paling ndak suka kalau ada orang yang koar-koar soal bagusnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang bla bla bla, ini itu, ba bi bu” “Ibu itu bukan main keselnya sama DPR-DPR yang sok bicara tinggi-tinggi soal undang-undang yang berulang-ulang didebatin, coba tanyakan saja Ayahmu.!”
Iqbal yang dari tadi senyum-senyum mendengar istrinya ngedumel akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat tatapan anak-anak nya yang setengah menuntut itu.
“Kalian kan tahu Undang-Undang bukan main indahnya pada saat dibicarakan, tapi kenyataannya tidak bisa diterapkan sampai kebawah kan?”
“Pemerintah itu loh, sukanya yang praktis, ndak mau ribet, dan disusahkan, yang njelimet-njelimet itu tidak mau” Fatimah mencoba menyela.
“Dibawah ya “adat jalanan” lah yang tetap berlaku” Radit yang baru muncul sehabis pulang dari kantor mulai menimpali percakapan menarik itu.
“Bagaimana dengan donaturnya Dit?” tanya Fatimah ketika tahu anaknya pulang.
“Ah, bu repotnya ngurusin permintaan yang bikin bingung seperti itu, masa saya harus menandatangani kuitansi senilai 10 juta seperti itu?”
“Lha bagus dong, kenapa tidak kamu tanda tangani?”
“Wong saya cuman dapat 7 juta, ya saya tolak.!”
“Astaghfirullahalazim” seluruh isi rumah seketika langsung terpusat pada Radit. Radit yang mulai menjalankan yayasan dari Ibu nya seringkali harus menghadapi realitas seperti itu. Menjalankan yayasan untuk anak-anak jalanan ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Selalu saja banyak orang yang memandang sebelah mata, dan menganggap anak-anak jalanan adalah sumber masalah, sampah masyarakat yang sudah sepantasnya mendapatkan perlakuan seperti itu. Fatimah sendiri sadar dengan hal itu, oleh sebab itulah ia bahkan rela menghabiskan separuh hartanya untuk mendanai yayasan kecil itu dari kantongnya sendiri.
Hampir 17 tahun sudah ia memperjuangkan nasib anak-anak jalanan, meneriakkan berbagai kecaman-kecaman pedas terhadap pemerintah yang tak begitu peduli tentang problem sosial ini, padahal anak-anak seperti itu adalah anak-anak yang bahkan mampu membuat dunia melihat mereka, yang membedakan mereka hanyalah status sosial, ekonomi dan keberadaan mereka saja. Tapi jerih payah itu akhirnya membuahkan hasil yang lumayan memuaskan. Di mata Fatimah setidaknya yayasan itu sudah lumayan besar dan sudah bisa berdiri tanpa harus mendapat koordinir darinya. Kini yayasan itu telah dijalankan oleh ketiga pelipur laranya, Radit dan si kembar Aisa dan Adelia. Kelumpuhan pada kakinya serta umur yang begitu renta akhirnya melumpuhkan aktivitas luarnya.
“Apa benar ini keluarga dari Ibu Fatimah Azzam”
“Ya benar, saya putrinya, ini dari siapa?”
“Ibu anda telah meninggal akibat kecelakaan lalu lintas, mobil yang dikendarai oleh seorang wanita muda dan seorang laki-laki yang berada disampingnya juga meninggal akibat pendarahan yang parah. Apa mereka Ayah dan saudara anda?”
“Ini siapa? Tolong jangan mengada-ada, Ibu dan Ayah saya serta adik saya memang akan pergi ke Bandara Sukarno-Hatta untuk mengantar adik saya”
“Kami dari kepolisian Bu. Tolong Ibu tenangkan pikiran anda dulu, lebih baik anda datang kesini dan mengonfirmasi apa benar ini jenazah kedua orang tua dan adik anda, tolong datang ke Rumah Sakit Cipta Sari Kusuma....”
“Mas Ief!!” “Mas Ief....!!”
Pekikan dan teriakkan itu langsung membahana memenuhi rumah kecil itu.
“Iyaa!! Ada apa Dek, kenapa ribut-ribut”
“Telepon Bang Radit Mas!!” “cepat!!”
“Iya, ada apa kenapa dulu Dek??”
“Aisa Mas. . Ibu. . . Bapak. . .” “Mereka semua tidak jadi mengantar Aisa ke Amerika”
“Lho?! Lantas kenapa kamu jadi menangis seperti ini, Ibu kenapa Dek?? Bapak dan Aisa kenapa?? Mereka semua kenapa???!”
Seketika pandangan Adelia menjadi gelap pekat, yang ia tahu semua isi rumah menjadi gaduh dan ribut, Radit dan mbak Tiara, Iyem, mang Topan dan suaminya Syarief.


Tanah Bumbu, 14 Desember 2010



SELAMAT HARI IBU





  • Cerpen ini saya gores untuk Ibunda tercinta saya, Hj. Nor Idawati.

Cerpen ini hanya karangan fiktif saya, maaf apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat ataupun waktu...☺

Ibu

Ibu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dikala lara, impian kita dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi.Siapa pun yang kehilangan ibunya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.
~ Khalil Gibran


Tidak ada komentar:

Posting Komentar